Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Resensi > Disorientasi Berujung Maut

Disorientasi Berujung Maut

Pernahkah Anda merasa tersihir usai membaca sebuah novel? Bila belum, novel terjemahan yang ditulis oleh penulis Mesir ini bisa menjadi salah satu pilihan membuang waktumu. Kisah dimulai ketika Said Mahran yang baru lepas dari jeruji besi, merasa harus mencari Nabawyya dan Ilish. Sebab ia merindukan Sana – anak perempuan berusia enam belas tahun hasil pernikahannya dengan Nabawyya. Namun nasib buruk telah menghantamnya. Sana menyangkalnya. Ia tak mau mengikuti ayahnya yang mantan narapidana – pencuri berdarah dingin sekaligus residivis kelas kakap.

Kehancuran merobek-robek hati Said. Ditambah lagi, Nabawyya telah menikah dengan Ilish – bawahannya sekaligus bekas sahabat baiknya. Di tengah perjalanannya, ia bertemu Nur – kekasih lamanya – yang rela melakukan apa pun demi Said. Namun pada akhirnya, Nur pun melakukan pengkhianatan dengan menjalin kisah dengan lelaki lain. Sebab Said Mahran adalah lelaki yang kaku, sementara perempuan butuh lelaki yang hangat. Said selalu terlambat mengungkapan cinta. Barangkali itulah salah satu alasan mengapa Said beberapa kali dikhianati wanitanya.

Saat Said menemui sahabat lama lainnya yang kaya raya, Rauf Ilwan, sang pemilik media tersohor di Mesir, ia juga mendapat penolakan. Media mana yang mau menerima mantan napi? Namun, Rauf masih memeperlakukannya dengan baik, ia masih mengasihani sahabatnya itu dengan memberikan beberapa lembar uang. Said yang merasa terhina, keesokan harinya menyelinap ke istana megah Rauf. Ia hendak mencuri kembali – sebuah pekerjaan yang menurutnya bukanlah sebuah kejahatan, yang ia yakini sebagai sebuah kebaikan. Usaha itu gagal karena Rauf mengetahuinya. Said melarikan diri. Persahabatan mereka putus saat itu juga.

Jika ditilik dari judulnya, Pencuri dan Anjing-Anjing merupakan judul yang sangat apik. Pencuri melambangkan diri Said Mahran – yang pertama kali ia memang merasa harus mencuri karena terdesak oleh biaya rumah sakit ibunya. Dulu ketika mahasiswa, Rauf pernah berada di posisinya, membantunya, bahwa mencuri adalah suatu perbuatan yang adil baginya. Lambat laun, perbuatan itu menjadi candu meski ini tidak dibenarkan. Semenatra “anjing-anjing” merupakan metafor bagi orang-orang yang dibencinya, yakni Nabawyya, Ilish, dan Rauf.

Facebook Comments