Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Resensi > Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan

Mata Hari, Perempuan di Pusaran Kekuasaan

Namaku Mata Hari karya Remy Sylado

Dulu aku berpikir, dan sekarang aku harus membenarkannya, bahwa seorang perempuan modern bukan melulu bisa berpakaian bagus dan karenanya penampilannya akan selalu dilirik orang – seperti yang sudah sejak kecil aku dibiasakan oleh almarhumah ibuku – tapi yang penting sekali adalah otaknya harus bagus juga, yang diperolehnya dari kemauannya membaca buku di perpustakaan. Dengan membaca, aku percaya perempuan menjadi manusia berharkat, bukan hanya cerdik saja tapi juga cendekia.

———————————-

Kutipan di atas merupakan penggalan pemikiran sosok  Mata Hari dalam novel yang berjudul Namaku Mata Hari karya Remy Sylado. Novel ini diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, dengan tebal 559 halaman. Cetakan pertamanya  terbit pada tahun 2010, sedangkan cetakan keduanya terbit pada tahun 2011. Sebelumnya cerita pada novel ini diterbitkan sebagai cerita bersambung di Harian Kompas.

Di tangan Remy Sylado, Mata Hari tak sekedar pelacur internasional, penari erotis dan agen mata-mata pada perang dunia ke-2, seperti yang pernah kita kenali dari berbagai literatur dan film dokumenter. Di novel ini, Mata Hari merupakan sosok perempuan cantik dan cerdik sekaligus cendekia, suka membaca buku yang memiliki pemikiran mendobrak dominasi patriarki, mengkritik kekuasaan kolonial, mengkritik agama dan gereja, mengkritik pemikiran kebangsaan yang sempit, serta mengkritik seks.

Nama Mata Hari, terilhami dari nama koran Melayu pada abad ke-18 di Hindia Belanda. Koran bernama Mata Hari diterbitkan oleh Oei Tiong Ham, raja gula dari Semarang. Margaretha Geertruida yang saat itu merupakan istri opsir kerajaan Belanda dan ditugaskan ke Hindia Belanda di daerah Ambarawa, tertarik dengan nama Mata Hari pada koran berbahasa Melayu itu. Dia juga tertegun ketika membaca iklan rokok dalam koran tersebut yang menuliskan tentang Mata Hari.

Facebook Comments