Buku ini cocok untuk pemula yang ingin mempelajari Nietzsche lebih jauh sebab isinya masih berupa pengantar atau masih bersifat permukaan. Sesuai judul aslinya Nietzsche: A Beginner’s Guide ‘Nietzsche: Sebuah Panduan untuk Pemula’. Akan tetapi, mengapa penerjemah memilih judul secara umum saja sehingga menjadi Friedrich Nietzsche? Tentunya penerjemah memiliki alasan sendiri. Bisa jadi supaya jangkauan pembacanya menjadi lebih luas. Lihat saja novel filsafat Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder! Di luar negeri, novel itu dibaca oleh kalangan remaja. Sementara di Indonesia, novel tersebut kebanyakan dibaca oleh orang-orang dewasa. Mengapa demikian? Sebab filsafat di indonesia masih menjadi hal yang asing dan stigma masyarakat tentang membaca buku filsafat juga tidak terlalu positif, yakni bahwa buku-buku kategori filsafat tergolong bacaan yang berat.
Baca juga: Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan
Faktanya, belajar Nietzsche bukanlah belajar filsafat dasar lagi. Ia tergolong sebagai tokoh filsafat asal Jerman yang sulit dimengerti. Nietzsche sendiri pun justru senang ketika ia banyak disalahpahami orang. Nietzsche justru takut ia dipahami banyak orang.
Bagi Sahabat Puan yang telah mendalami filsafatnya Nietzsche, buku ini sangat tidak direkomendasikan sebab bisa dipastikan Sahabat Puan akan kecewa dan merasa tidak puas. Penulis buku ini memang sengaja meringkas pemikiran-pemikiran Nietzsche dari berbagai buku secara dasar saja. Contoh kecil kekurangdetailan buku ini misalnya saja dalam dualisme alam dan seni Nietzsche dalam The Birth of Tragedy. Penulis hanya menjelaskan bahwa Apollo dan Dionysus sebagai dewa Yunani saja. Seharusnya penulis menjelaskan lebih rinci spesifikasi Dewa Apollo dan Dionysus agar pembaca tidak keliru dan mudah mengimajinasikannya.
Contoh lain misalnya, pada masa itu, Nietzsche hanya dikenal sebagai filolog dan penyair dandy yang agak nyeleneh, tetapi penulis tidak menjelaskan mengenai awal mula Nietzsche diketahui sebagai filsuf. Peran Martin Heidegger tidak dimunculkan di buku ini. Nietzsche juga mengaku ia sebagai psikolog, jauh sebelum ilmu psikologi itu ada. Pernyataan ini juga tidak dinyatakan dalam buku ini, penulis hanya menarasikannya dengan singkat. Atau nihilisme dan perspektivisme di dalam buku ini yang masih sangat dasar dan singkat.
Baca juga: Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas
Pada setiap bab dalam buku ini disertai kutipan-kutipan dari buku Nietzsche yang diduga sebagai aforisme. Pada akhir tiap babnya diberi ikhtisar singkat agar pembaca mudah memahami. Juga diberi ilustrasi dan beberapa kata kunci guna memperkuat teks.
