Halaman: 1 2
- Judul: Filosofi Kopi
- Pengarang: Dee
- Penerbit: Truedee Books & Gagas Media
- Cetakan: 1, Februari 2006
- Tempat: Jakarta
- Tebal: xii + 134 halaman
Dunia sastra di Indonesia memang unik. Ia memiliki dua poros yang kuat. Poros itu ada di belahan bumi bagian Jakarta dan belahan bumi bagian Yogyakarta. Seperti kucing dan anjing, mereka tak bisa hidup dalam damai. Meski begitu, mereka seperti jalinan percintaan yang penuh benci namun memendam cinta. Sastrawan menyebut karya-karya perempuan penulis pendatang baru dari Jakarta dengan sebutan ‘sastra wangi’. Saat menerbitkan buku yang diberi judul Filosofi Kopi ini, perdebatan tentang ‘sastra wangi’ masih begitu segar.
Goenawan Mohamad dalam pengantar buku ini menuliskan bahwa Dee adalah sebuah tangkisan. Ia membuktikan ketiadaan ‘sastra wangi’ dalam buku ini. ‘Sastra wangi’ baginya semacam cemooh laki-laki terhadap karya-karya sastra Indonesia mutakhir. Istilah ‘sastra wangi’ muncul setelah diterbitkannya karya-karya Djenar Mahesa Ayu dan Ayu Utami yang sarat dengan dunia yang penuh kevulgaran dalam menggambarkan persenggamaan. Istilah ‘sastra wangi’ juga diberi kata lain ‘sastra lendir’.
Prosa-prosa dalam buku Filosofi Kopi memang tak mengumbar tentang persenggamaan yang sangat vulgar, tetapi ia tak lepas dari unsur tentang kehidupan para manusia urban, utamanya perempuan. Seperti dalam cerita Filosofi Kopi yang menggambarkan dunia yang glamour dalam mengartikan secangkir kopi yang dianggap sempurna, meski pada kenyataannya si pembuat, Ben, kehilangan makna dari kartu-kartu yang selama ini disuguhkan dengan tulisan-tulisan yang dianggap mengandung makna. Ia merasa kalah hanya dengan menyeruput kopi Tiwus yang membuat dirinya semakin terpuruk. Kehidupan kaum urban jelas terlihat di awal cerita yang menggambarkan suasana kedai kopi yang mulanya diberi nama Kedai Koffie BEN & JODDY, kemudian diganti menjadi FILOSOFI KOPI, Temukan Diri Anda di Sini.
Kehidupan perempuan urban jelas terlihat pada prosa berjudul Mencari Herman. Sosok perempuan urban ada pada Hera yang memiliki kehidupan bebas dengan lawan jenis. Pencariannya mewujud menjadi sesuatu yang absurd sehingga menyebabkan pada kematiannya sendiri.
Keabsurdan juga tampak pada Egi yang dituliskan sebagai sosok yang masokis, membiarkan dirinya disakiti oleh orang lain dan dengan mudah menikmati kesakitan itu. Gambaran ketidaklogisan cinta itu digubah dengan apik oleh Dee dalam prosanya yang berjudul Sikat Gigi.
Keteguhan hati seorang perempuan urban diceritakan dengan apik dalam Sepotong Kue Kuning. Indi menguatkan diri sebagai perempuan yang selingkuh dengan pria beristri. Pilihan yang tak mustahil di kehidupan masyarakat urban yang penuh godaan. Mencari kepuasan hati dengan cara yang absurd, tak bisa dimengerti oleh logika. Kekayaan dan kemapanan seorang perempuan bukan jaminan ia bakal bahagia dalam hidupnya. Terkadang ia memilih jalan yang tak dimengerti oleh banyak pihak dan akhirnya terjebak dengan pilihannya sendiri. Tanpa bisa berbuat banyak karena sebuah keterlanjuran.

Comments are closed.