Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Resensi > Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup

Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup

Buku Cemong

Sebagai pendatang baru dalam khasanah sastra Indonesia, Ida begitu piawai membawa Aceh dengan segudang cerita. Ia bukan hanya berbicara tentang teror, ketakutan, kekhawatiran dan harapan yang mungkin kandas. Tapi ia membawa nuansa baru yaitu sebuah kebangkitan yang terus berkobar dan penuh semangat. Dalam sekumpulan naskah yang ditulis, ia tak melulu berbicara tentang Aceh dan kultur yang melekat di dalamnnya. Ia seakan mengajak pembaca ‘bertamasya’ ke seluruh dunia miliknya. Boleh jadi ia adalah pelancong ulung yang mencatatkan sederet kisah getir, manis, dan mengagumkan. Bisa juga itulah cara dia dalam mengekspresikan Aceh dalam segepok kisah.

Sebagai perempuan, bisa saja ia mengalami prasangka, masa lalu, impian dan sebuah harapan. Hal-hal demikian tak mungkin bisa dihindari dari sosok manusia, demikian pula halnya dengan Ida. “Sayur plik terenak yang dimakan lelaki itu. Lagi sebuah senyuman terukir di wajah lelaki itu. Kebahagiaan perempuan terletak pada senyuman lelakinya” (hal. 21).

Kita tak pernah tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada seorang perempuan terhadap lelaki. Ida telah memberikan clue, bahwa sejatinya ia tetap manusia biasa yang punya perasaan yang sama. Cerpen Lelaki Tertawan Di Gunung mungkin sebuah teks yang menjadi identitasnya. Aceh, tentu saja tak bisa dilepaskan begitu saja dari kehidupannya. Alam begitu kuat mencengkeram jiwanya.

Lantas, apa ia berbicara cinta? Tentu saja, dan Ida pun mengatakan itu dalam kumcer Seraut Wajah Berbingkai Pohon bahwa sesungguhnya cinta itu tak hanya kata yang berbunga-bunga. Toh, jalinan peristiwa demi peristiwa yang bergulir dengan ketakterdugaan adalah sebuah matarantai yang menjerat romantikanya. Dengan apiknya ia menuturkan dalam sepenggal paragraf begini, “Rajan mengenal Mama? Pasti ada sesuatu yang salah. Jika lelaki yang duduk di depannya adalah lelaki yang wajah patungnya berada di akar pohon, tentu umurnya sudah ratusan tahun. Sementara mamanya paling tidak baru berumur lima puluhan tahun“ (hal. 16). Teka-teki semacam apa itu? Seseorang di masa lampau kembali berulah pada masa sekarang.

Facebook Comments