Halaman: 1 2
Masih ingat kapan terakhir belajar sejarah? Ya, kebanyakan pasti menjawab saat SMA. Sebenarnya sejak duduk di bangku SD, kita sudah dikenalkan dengan pelajaran itu. Namun karena waktu itu, pelajaran yang harus dikuasai banyak dan dituntut memenuhi KKM semua. Akhirnya tidak fokus dan setengah-setengah dalam mempelajari.
Selain itu, metode yang digunakan guru sejarah masih bersifat menghafal. Paling sering disuruh hafalan tahun, tokoh, dan isi perjanjian. Kalau tidak bisa, konsekuensinya adalah hukuman. Setelah kuliah dan lulus seperti sekarang, saya merasa tuntutan atau metode semacam itu sungguh konyol. Mengapa? Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik. Anak hanya diajari untuk banyak belajar tanpa fokus yang jelas. Memang sih, di SMA sudah ada penjurusan IPA dan IPS namun tidak jelas arahnya ke mana.
Sejak dini kita jarang ditanya soal hobi dan pelajaran yang disukai. Orang tua jarang memperhatikan potensi anaknya, yang ada hanya tuntutan harus ngerjain PR, ikut les sampai larut malam, setelah itu tidur! Tidak ada waktu sama sekali untuk bermain. Karena kebanyakan orang tua takut, nanti kalau anaknya dapat nilai jelek maka disangka bodoh.
Haruskah kepandaian seorang anak diukur hanya dari nilai Matematika? Apakah anak bisa genius kalau tuntutannya banyak? Sudahlah, jangan menyamaratakan kemampuan anak. Guru harus mulai berpikir dan bisa mengarahkan, jika anak didiknya bercita-cita sebagai arkeolog seperti saya, maka mereka harus menguasai pelajaran A misalnya. Ya sudah, berarti mata ajar itu yang ditekuni. Meski saya pernah berada di dalam lingkaran siswa unggulan, namun sayangnya jawaban seperti ini tidak saya peroleh.
Belum Cukup
Zaman sudah berubah dan era milenial mulai mewarnai rutinitas hari ini. Teknologi telah mengubah banyak hal, anak muda dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi menyenangkan. Hari ini yang dibutuhkan generasi milenial adalah ilmu belajar. Sehingga mereka membutuhkan lebih dari seorang guru, yaitu pendidik.
Ada hal menarik ketika saya bertemu dengan adik kelas Program Studi Arkeologi kemarin. Dengan semangat, ia ingin lulus 3,5 tahun. Mendengar hal itu saya tersenyum dan pelan-pelan saya bilang bahwa itu saja belum cukup. Masih banyak materi yang perlu dipelajari. Apalagi, seorang arkeolog mainnya ke lapangan terus.
Tantangan mahasiswa arkeologi sekarang sangat kompleks. Selain paham teori mereka juga harus mengerti fakta di lapangan. Belum lagi ketika kita menghadapi konflik pengelolaan warisan budaya di daerah. Antara teori dengan fakta kadang berbeda jauh. Di sinilah seorang mahasiswa arkeologi (calon arkeolog) harus bisa berpikir bukan hafalan.
