Tuesday, May 26, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Tantangan Generasi Muda di Era Milenial

Tantangan Generasi Muda di Era Milenial

Dua Tahun

Bulan Maret lalu, saya ke Malang untuk menjadi salah satu narasumber dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi. Acara itu diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Arkeologi Jawa Timur bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Dengan tema “Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya di Jawa Timur”.

Sudah dua tahun ini saya berkesempatan untuk menjadi salah satu narasumber dalam acara serupa. Meski di sana tergolong paling muda dibanding narasumber lain. Namun saya senang, karena dapat berbagi perkembangan kondisi warisan budaya di Banyuwangi.

Narasumber hari kedua DIA Jatim 2018 dari kiri ke kanan: Drs. Andi Mohammad Said, M.Hum (kedua dari kiri), Khairil Anwar, S.S., Drs. Ismail Lutfi, M.A., dan Jingga Kelana. (Foto: Anna C. Saragih.)

 

Ketika berbicara tentang pengembangan dan pemanfaatan Cagar Budaya, sebenarnya banyak fakta yang sering kita temui di lapangan. Contohnya, masyarakat sengaja merusak dengan alasan belum ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan di dalam kelas atau di belakang meja. Tahukah Anda bahwa ilmu yang kita pelajari di sekolah dan di kampus cepat tertinggal? Ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Adu kejar antara guru/dosen dan para penjelajah pengetahuan terus terjadi.

Saya sering memberi tantangan kepada adik-adik kelas di Program Studi Arkeologi. Ketika liburan, coba luangkan waktu untuk nyitus (berkunjung ke tempat-tempat bersejarah) ke daerah masing-masing! Amati kemudian data potensi sumber daya Arkeologi yang ada! Hal sederhana yang nanti dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan saat akan mengajukan proposal skripsi.

Mereka di lapangan akan menemukan hal baru. Praktik secara langsung bagaimana cara berpikir secara benar dan mengidentifikasi sebuah temuan arkeologi. Alat mereka hanya skala meter, GPS, kamera, dan alat tulis. Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan di era milenial seperti sekarang. Terlebih sastrawan George Bernard Shaw pernah berkata, hanya dua persen orang yang berpikir. Tiga persen yang berpikir bahwa mereka telah berpikir dan 95% selebihnya memilih lebih baik mati ketimbang berpikir.


Biodata Penulis

Jingga Kelana Putra Santiaji, menyelesaikan S-1 Arkeologi di Universitas Udayana, Denpasar. Sejak kuliah sudah sering menjadi panelis atau narasumber dalam diskusi ilmiah tentang budaya dan ilmu yang digelutinya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Pemuda yang pernah malang melintang di dunia teater, organisasi sekolah, kampus, dan keagamaan ini, sekarang mulai mengurangi aktivitas tersebut. Ia memilih untuk menekuni bidang arkeologi dan menuangkan hasilnya dalam sebuah tulisan.

Translate »