Thursday, May 6, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Poligami

Poligami

Poligami

TIBA-TIBA netizen heboh oleh postingan foto seorang ustaz sedang makan bersama tiga orang perempuan. Ketiga orang perempuan itu adalah istrinya. Postingan ini kemudian menuai tangggapan yang beragam. Ada yang menolak dengan tegas, ada pula yang setuju dengan postingan tersebut.

Poligami merupakan istilah dalam pernikahan ketika laki-laki memiliki istri lebih dari satu orang. Dalam istilah antropologi adalah poligini. Hasil penelitian G.P Murdock pada awal 1940-an dengan mengambil sampel 565 kelompok masyarakat dari semua benua dengan latar belakang suku, bangsa, kebudayaan, serta agama dan kepercayaan yang berbeda, hanya sekitar 19 persen yang menganut sistem keluarga monogami, 82 persen menganut sistem poligini dan sisanya poliandri. Jika poligami selalu dikaitkan dengan agama Islam, tapi fakta menyebutkan bahwa poligami itu sudah ada di kalangan bangsa-bangsa yang hidup pada zaman purba. Poligami sudah dilakukan oleh bangsa Yunani, Cina, India, Babilonia, Asyria, Mesir dan lainnya sebelum Nabi Muhammad membawa Islam.

Umat terdahulu dalam agama samawi juga telah melakukan poligami. Bahkan, dulu poligami di kalangan mereka tak terbatas, hingga mencapai puluhan ribu istri bagi satu suami. Seorang Raja Cina ada yang mempunyai istri sebanyak 30.000 orang. Sedangkan di Indonesia, praktik poligami juga sudah ada sebelum agama Islam masuk dan  berkembang. Raja-raja di masa lalu, biasanya memiliki lebih dari satu istri. Istri pertama biasanya memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan istri –istri lainnya (selir).

Dalam ajaran Islam yang tertuang di Alquran surat Annisa ayat 3, disebutkan, “Dan nikahilah wanita yang kamu sukai dua, tiga, atau empat; dan apabila kamu tidak bisa berlaku adil, nikahilah seorang saja.” Menurut Hassan Halthout, agama samawi lain seperti Yahudi dan Kristen juga tidak melarang poligami. Nabi-nabi yang namanya disebut dalam Taurat semuanya berpoligami tanpa pengecualian. Nabi Sulaiman A.S. mempunyai 700 orang istri yang merdeka, dan 300 orang berasal dari budak (Jurnal Perempuan, No 31 Menimbang Poligami, Jakarta: 2003, hlm 34).

Facebook Comments