Saat pertama kali hendak mengunjungi SAD (Suku Anak Dalam) atau orang rimba di TNBD (Taman Nasional Bukit Duabelas), yang muncul pertama kali dalam benak adalah dunia sunyi, yang jauh dari ingar-bingar signal dan listrik. Kehilangan signal dan listrik di hutan bukanlah hal yang menjengkelkan. Justru ini sebagai penguji diri betapa dunia modern telah membius manusia untuk takluk terhadapnya.
Dari Tanah Pilih Pusako Betuah, Chevrolet Spin telah membawa tubuh kami untuk singgah ke lapak petualang di Bangko, ibukota Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Dalam bayanganku, aku dan temanku akan menginap di sudung (rumah orang rimba tanpa dinding yang beratap rumbia). Oleh sebab itu, kami pun menyewa sleeping bag dan membeli senter. Usai dari sana, kami mengunjungi mes Sokola Rimba, salah satu komunitas yang didirikan Butet Manurung, yang kerap mendatangkan volunter untuk mengajarkan baca tulis orang rimba.
Pengendum, Penangguk, Mijak Tampung, dan orang rimba lainnya sudah ada di mes Sokola Rimba. Bayanganku sebelumnya, orang rimba itu masih sangat primitif, ternyata mereka telah menggunakan pakaian laiknya orang-orang modern. Cara berpikir mereka pun sudah maju. Senja hampir tenggelam dan langit yang mendung membuat Pengendum khawatir bila kami akan nekat masuk hutan saat itu juga. Sebab perjalanan dengan kendaraan roda dua kan memakan waktu kurang lebih empat jam.
Belum lagi, kalau hujan turun tiba-tiba. Jalanan tanah merah akan menjelma bubur. Namun, kami tetap nekat ingin ke sana. Mijak Tampung dan Penangguk bersedia mengantar kami dengan bekal seadanya. Kami mampir ke hotel untuk meletakkan barang-barang dan memutuskan berjalan ke Makekal Hulu, Taman Nasional Bukit Duabelas. Jika dilihat dari letak geografis di peta, Makekal Hulu TNBD masuk ke wilayah Kabupaten Tebo. Hanya saja aksesnya lebih dekat melalui Merangin.
Dari Bangko, kami menuju Margoyoso, melewati beberapa desa yang jalannya sunyi. Hanya terdengar suara jengkerik dan sesekali melintas mobil-mobil truk yang hampa. Jalan-jalan aspal yang berlubang tak membuatku dan Penangguk berhenti berbincang. Motor Penangguk sangat mengerikan. Jok motornya sudah lepas akibat dikerjai monyet. Lalu jok itu diikatnya dengan tali pada beberapa sisinya. Remnya juga sudah blong dan lampu motornya tak hidup lagi. Maka Mijak pelan-pelan di belakang kami agar cahaya motornya sampai ke kami.
Saya lupa persis nama-nama desa yang kami lalui, seingat saya, desa terakhirnya bernama Desa Bungo Tanjung. Penangguk bilang di desa inilah kali terakhir signal android akan ditemukan. Kami pun masuk ke sebuah gerbang pembatas dan melalui daerah bernama Tali Bukit. Saya mengeluarkan senter untuk menerangi motor kami. Sebab dari gerbang pembatas ini tak banyak manusia yang tinggal seperti di kota. Hanya ada beberapa orang Jawa dan jika lebih masuk ke dalam lagi, kita akan sampai Makekal Hulu, tempat orang rimba bermukim.
