Kami memutuskan menuju tepian hutan adat. Tak boleh ada satu orang asing pun yang memasuki hutan adat. Sebab hutan itu bisa dikatakan suci, selain sebagai tempat bagi tanoh peranoon (tempat melahirkan perempuan rimba) dan acara pernikahan orang rimba, juga sebagai ladang tanaman buah dan madu. Mereka percaya bahwa hutan adat telah dijaga dewa-dewa untuk menghidupi mereka. Total perjalanan akan ditempuh kurang lebih lima jam berjalan kaki dengan kiri kanannya belantara.
Yang paling tak terlupakan, kami juga harus masuk ke dalam Sungai Sako Talun yang dalamnya selutut orang dewasa. Ketika itu sedang ada orang rimba yang menubah ikan dengan ambung di punggungnya. Mijak mengatakan kepada kami bahwa sungai bagi orang rimba sangat berarti. Orang rimba minum dari air sungai. Maka setiap ada anak sungai, mereka tidak akan buang air kecil ataupun besar ke sana. Sungai bagi mereka adalah salah satu kekayaan alam yang harus dijaga.
Saat di perjalanan, kami bertemu dengan perempuan-perempuan rimba yang berkain sarung bertelanjang dada dengan ambung penuh singkong di punggungnya. Inilah tradisi yang harus dihormati. Perbedaan membuat kita semakin menyadari bahwa Indonesia memiliki banyak tradisi yang unik dan khas. Kami mengobrol sejenak dengan ibu-ibu itu. Mereka memanggil ibu dengan sebutan induk. Sebuah kata yang terdengar asing bagi saya yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Seorang induk yang saya tidak ingat persis namanya mengatakan bahwa suaminya memiliki dua istri. Dalam tradisi orang rimba, laki-laki boleh menikah lebih dari satu asal tidak lebih dari dua istri. Induk kemudian berjalan bersama kami melalui jalan setapak. Langit sangat mendung waktu itu.
“Ci la’ be’ pe’,” induk mengucap berkali-kali sambil memukul kayu yang ia pegang ke sembarang pohon. Induk bilang, itu sebuah mantra penangkal hujan. Lantas saya bertanya “Bila hujan turun di jalan, di mana kita akan berteduh?” Mijak bilang kita harus minggir sejenak dari jalan, sebab hujan hanya turun di jalan. Semua tertawa. Mijak melanjutkan, “Bila hujan tiba, ya kita akan kehujanan sebab takada tempat berteduh.” Sambil berjalan saya bertanya kembali, “Apa orang rimba ada yang memakai payung atau jas hujan?” Mereka menertawai pertanyaan konyol saya sambil geleng kepala.
Akhirnya sampai juga, Mijak mencari batas hutan adat. Dahulu ditandai dengan cat berwarna merah, tetapi kami tak menemukannya. Di dalam hutan adat ada patung gajah raksasa dan sebuah kerajaan yang telah membatu. Namun untuk menuju hutan adat, perjalanan bisa ditempuh selama satu atau dua hari berjalan kaki. Kami berhenti sejenak sambil menanyakan jenis-jenis tanaman obat. Untunglah kami membawa bekal makanan, maka kami piknik di tengah jalan setapak yang dipenuhi daun-daun. Tiba-tiba saya menjerit dan teman-teman kebingungan. Ada hewan mirip kaki seribu tepat di sebelahku. Saya langsung berpindah tempat, mereka menertawai saya.
