Thursday, May 6, 2021
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Wisata Sejarah di Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi

Wisata Sejarah di Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi

Berwisata Sejarah di Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi

Bukittinggi, kabupaten dengan cuaca yang sejuk, sangat pas bagi para perantau yang ingin pulang kampung dan hidup tenang di sana. Kota kelahiran bapak proklamator, Muhammad Hatta, menjadi kota penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kota tersebut juga pernah menjadi ibukota Republik Indonesia meski hanya sementara.

Sosok Bung Hatta, sapaan akrab sang proklamator itu, sangat menginspirasi generasi bangsa ini. Ia seorang yang sangat bersahaja, bahkan beliau sampai bernazar tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Akhirnya Indonesia memperoleh kemerdekaan dan beliau menikah dengan Ibu Rahmi di usia 43 tahun. Ia seorang yang sangat disiplin, sederhana dan tipe lelaki setia.

Guna menghargai jasa Bung Hatta, pemerintah daerah Bukittinggi membuatkan sebuah taman yang diberi nama Taman Monumen Bung Hatta. Letaknya di samping Istana Bung Hatta.

Di sana terdapat 4 relief perjalanan hidup dari lahir hingga beliau merayakan ulang tahunnya ke-70. Relief pertama melukiskan tempat kelahiran Bung Hatta di Fort de Kock atau saat ini dikenal dengan nama Bukittinggi. Wajah masa kecil beliau juga terpampang di relief pertama itu.

Berwisata Sejarah di Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi
Tempat kelahiran Bung Hatta

Relief kedua menggambarkan perjuangannya di organisasi Perhimpunan Indonesia yang digerakkan di negeri Belanda, Eropa. Bersama tokoh-tokoh lainnya pada masa pergerakan, beliau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jadi, saat beliau kuliah tidak hanya sekedar belajar saja namun memperjuangkan negerinya yang terjajah.

Berwisata Sejarah di Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi
Perjuangan Bung Hatta di organisasi

Relief ketiga menunjukkan tentang perjuangan Bung Hatta saat mengumandangkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 hingga perjuangan memperoleh kedaulatan. Meskipun Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan, namun Belanda belum mengakuinya. Karenanya Bung Hatta berjuang dari jabatannya sebagai wakil presiden hingga pernah menjadi perdana menteri masa Demokrasi Parlementer demi memperoleh kedaulatan. Perjuangan itu pun berhasil pada Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditanda tangani tanggal 31 Desember 1949.

Facebook Comments