Di sepanjang jalan yang kiri kanannya pohon karet hingga belantara yang gelap, memunculkan sensasi ngeri tersendiri, di tambah jalannya masih tanah merah, yang sebagiannya belum kering akibat hujan semalam. “Bila malam ini hujan, maka jalanan ini akan lebih parah lagi,” ucap Penanngguk.
Di Tali Bukit, ada banyak penanjakan dan penurunan yang curam. Saat di penanjakan yang sangat curam, saya seperti hendak melorot dan jatuh. Bila jatuh pun saya harus tetap gembira dan bersyukur sebab pengalaman ini bisa dikata hal yang langka. Namun Penangguk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Saat tiba di penurunan yang tinggi, kedua kakiku ikut turun ke tanah untuk membantu rem yang blong. Barangkali curamnya perbukitan inilah, maka daerah itu dinamakan Tali Bukit.
Setelah hampir tiga jam lebih berkelana dengan pacuan adrenalin yang dahsyat, kami pun tiba di kawasan jalan setapak. Penangguk dan Mijak memakirkan motor di tepi jalan di depan hutan. Ternyata ada banyak motor-motor orang rimba di sana. Kata Penangguk motor tersebut meski tak dijaga tak bakal ada yang hendak mencurinya. Tidak ada cahaya kecuali lampu senter yang kupegang. Kami berempat harus berjalan kaki sekitar 45 menit. Jalan setapak itu lumayan licin, kami juga harus melewati jembatan kecil. Penangguk berjalan cepat sekali, padahal ia membawa kardus sembako kami. Ia berjalan mendahului kami dalam gelap.
Tiba-tiba ada dua anak kecil mengikuti kami dengan senter terikat di kepalanya. Penangguk bilang mereka adalah anak tumenggung (kepala rombong). Hingga tibalah kami ke sebuah rumah papan beratap seng. Ah, meleset sekali. Saya pikir saya akan menginap di sudung. Kami memasuki rumah dan beristirahat. Untuk membuang rasa kecewa, saya tetap memakai sleeping bag. Sebelum tidur, Penangguk menjamu kami dengan teh.
Tepian Hutan Adat
Di Makekal, tidak banyak yang memiliki rumah. hanya dua atau tiga saja. Selebihnya, mereka tinggal di sudung. Pagi telah menjelang, Tumenggung Calitas (baca: Calitai) datang ke rumah Mijak. Barangkali ini cara Tumenggung menyambut manusia dari dunia modern yang sedang bertamu. Kami mengobrol dengan hangat. Bahasa rimba Tumenggung begitu mendayu-dayu. Sebagian mirip bahasa Melayu, sebagian lagi terdengar asing. Selesai itu, Mijak mengajak kami melihat tanaman jernang di belakang rumahnya. Ia membudidayakan tanaman jernang sejak beberapa tahun silam. Mijak bilang belum banyak yang membudidayakan jernang. Jernang sendiri peninggalan nenek puyang orang rimba. Bila panen tiba, buahnya lumayan mahal.
