Mijak bilang, ia sering membawa wartawan nasional ke tepi hutan adat. Namun, ada satu hal yang ia heran. “Kupikir, kalian akan berjalan lama seperti orang-orang kota lainnya, tak sangka ternyata cepat juga kalian berjalan, setara dengan kami.” Saya dan teman perempuan saya tersenyum. Penangguk masih diam. Berjalan menuju hutan saya anggap sebagai jalan santai sekaligus olahraga, siapa tahu berat badan menurun. Setelah selesai menyantap makanan, kami memutuskan pulang. Di perjalanan banyak sekali perempuan rimba yang sedang berjalan dengan ambungnya, namun sebagian lari tunggang langgang saat melihat orang asing seperti kami.

Di dekat kebun singkong yang ditanam orang rimba, kami bertemu dengan Induk Bejajo. Induk Bejajo bisa dibilang unik. Rambutnya agak kribo sementara perempuan rimbo lainnya cenderung berambut lurus. Induk menceritakan kisah sedihnya tentang ingatan masa lalu yang hingga kini masih bersemayam di jiwa. Suami tercintanya telah meninggal. Meski tidak sekolah formal, Induk Bejajo sangat baik. Ia memberi kami singkong untuk dibawa pulang. Dari situ saya membatin, orang yang tidak sekolah saja tahu cara berbagi. Bagaimana dengan diri saya sendiri? Orang dari dunia luar yang sudah mengenyam bangku sekolah yang terkadang masih sangat individualis.
Kami kembali ke rumah. Mijak bilang, rumah ini sengaja dibuat khusus tamu. “Kasian bila ada tamu yang bermalam di sudung. Nyamuk di sini tidak mempan dengan obat oles orang kota,” ucapnya. Dua laki bini orang Jawa sudah tiba di rumah Mijak. Mereka adalah orang kepercayaan Mijak yang mengurusi kebun karetnya. Orang rimba sudah sejak lama menjalin hubungan baik dengan orang Jawa. Kami melanjutkan obrolan dan tiba-tiba saja langit menjadi gelap.
