Saturday, May 9, 2026
Home > Literasi > Cerita > Pulang

Pulang

Aku tiba di kampung ini tepat ketika azan magrib berkumandang. Kali pertama setelah lima belas tahun berlalu. Terlihat banyak orang dengan beragam usia memasuki pintu depan masjid itu. Pintu yang dulu sering ku lalui.

Seorang kenalan menepuk pundakku, sambil mengajakku ke sana. Kuikuti langkahnya dengan rasa terpaksa. Biarlah, kataku, anggap saja bersosialisasi. Masjid ini sekarang terang benderang dengan lampu gantungnya. Dengan beberapa unit kipas angin di keempat dindingnya, hilanglah hawa panas seperti puluhan tahun lalu.

Adayang tetap sama, muadzin kecil mengumandangkan adzan. Aku masih duduk. Enggan beranjak dari shaf ketiga di masjid itu. Lalu qamat bergema. Aku beringsut ke shaf terdepan. Dia, imam itu, adalah guru mengajiku, adik-adikku, serta teman-teman lainnya. Biasanya kami mengaji setelah selesai salat magrib hingga sebelum salat isya.

Tiga rakaat yang sangat panjang bagiku. Aku tak pernah lagi ke masjid mana pun ketika berada di perantauan. Kota yang sangat sibuk dengan absurditasannya. Bahkan, salat pun tak sempat? Sementara terdengar anak-anak melantunkan ayat-ayat suci. Tepat sekali, mereka dipandu oleh imam itu yang semakin terlihat tua saja.

Tetap duduk di dalam masjid adalah pilihan terbaik. Bertegur sapa dengan kawan-kawan lama. Di masjid ini, hanya beberapa saja dari sekian banyak teman-teman masa kecilku.

Aku hanya sesekali menimpali percakapan. Mataku tertuju pada dua buah hiasan dinding berbentuk oval yang terbuat dari kayu. Ada lafaz bertulisan Arab yang terdiri dari kata Allah dan Muhammad pada masing-masingnya. Tiba-tiba, aku mengingat sesuatu. Barangkali waktu itu usiaku 12 tahun.

Ajaib sekali. Hiasan dinding itu hingga kini masih tergantung di sisi kiri dan kanan mihrab. Tak satu pun pembicaraan yang mengarah kepada sepasang hiasan dinding yang indah itu. Tidak juga aku hendak untuk memulainya. Lalu adzan isya berkumandang. Salat berjamaah telah ditutup dengan aamiin.

Kami pun meninggalkan masjid untuk pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah, ibuku rupanya telah menyiapkan makan malam. Aku dan ayah kemudian duduk di meja makan. Hanya bertiga.

Kami makan dengan diam. Selanjutnya berkumpul di ruang keluarga. Duduk bertiga saja membuatku sangat canggung. Pembicaraan pun hanya berkutat pada pekerjaanku, lalu pertanyaan dari ibu tentang apakah aku sudah memiliki calon pendamping hidup. Aku mengiyakan sambil lalu saja.

Tapi entahlah. Pikiranku masih dipaksa mengingat hiasan dinding di masjid tadi. Tentang sebuah cinta yang kuserahkan sepenuhnya untuk memahat kedua kata-kata itu. Dulu.

Translate »