Sewaktu itu di dekat rumah kami terdapat bangsal kayu. Di sana lah aku membelinya. Kayunya kupilih yang sangat bagus. Tukang kayu di sana, yang kebetulan aku kenal, telah memotong kayu itu sesuai yang ku inginkan, berbentuk oval. Lalu sepasang kayu itu dihaluskan agar terlihat menarik.
Berapa harganya pun aku lupa. Namun yang ku ingat, tukang kayu itu memberikan kepadaku secangkir kopi hitam yang masih panas sebagai bonus untukku. Sedapnya. Butuh waktu sekitar tiga atau empat hari untuk membuatnya. Aku belajar cara memahat dari seorang guru di sekolahku. Aku mengerjakannya dengan hati-hati sekali. Dimulai dengan menulis aksara Arab di permukaannya.
Masih ku ingat, aku mengerjakannya sehabis pulang sekolah. Dalam proses pembuatannya pun cukup istimewa. Ayahku berkata, bahwa yang hendak dipahat itu nama sang pencipta dan penyampai wahyunya, kedua nama yang disucikan menurut agama kami.
Aku pun diwajibkan berwudhu sebelum memulai pekerjaan. Lalu aku menurutinya tanpa membantah. Maka aku mengerjakannya dalam keadaan yang suci. Jika wudhu ku batal, kata ayah, aku harus berwudhu lagi. Kenangan-kenangan itu kini seakan nyata tergambar layaknya film layar lebar di langit-langit kamar ini. Nyata sekali. Aku tak bisa tidur dibuatnya.
Hiasan itu memang indah, menurutku. Lafaznya yang timbul berwarna hitam, diikuti warna asli kayu di sekelilingnya. Oh ya, harus ku katakan bahwa pembuatan sepasang hiasan dinding itu adalah murni ideku. Setelah selesai, ku berikan hiasan itu kepada guru mengajiku.
Aku masih mengingatnya dengan baik, ia tersenyum waktu itulalu mengusap kepalaku sembari membaca doa-doa berbahasa Arab agar aku selamat dunia dan akhirat. Kami berdua, sore itu, lalu menggantungkannya di sisi kiri dan kanan mihrab di masjid. Tepat pada posisi saat ini di mana hiasan itu tergantung.
Memang, aku dulu diistimewakan oleh guru mengajiku. Baik sebelum ataupun sesudah pembuatan hiasan itu. Tentu saja, aku jagoan dalam melantunkan ayat-ayat suci. Tidak itu saja, aku sangat tertarik mempelajari sejarah agama yang kuanut ini.Jika ada perayaan hari besar agama, maka aku akan dengan sangat anggun membaca Alquran di hadapan para undangan yang berada di masjid kampung kami. Lalu para tamu akan bergumam, dia adalah anak si bapak itu, suatu saat dia akan menjadi pemuka agama, dan sebagainya.
Ternyata nasib berkata beda. Aku merantau ke kota lain setelah tamat sekolah. Atmosfer lain melingkupi diriku. Aku mulai mengenal kehidupan yang sebelumnya tak kualami. Pertama, minuman keras. Selanjutnya, tak perlu lah kujabarkan di sini. Dalam kondisi mabuk secara rutin, aku mulai ketinggalan melaksanakan salat. Ini terjadi terus menerus, sehingga hilang takutku untuk tidak salat. Ditambah lagi pekerjaanku yang tidak menentu, dengan penghasilan tidak menentu pula. Tapi selalu ada uang untuk mabuk. Lalu aku pun tak pernah lagi ke masjid.
