Saturday, May 9, 2026
Home > Literasi > Cerita > Pulang

Pulang

Bahkan, ini sungguh gila, aku pernah tertidur pulas di kamar kosku di saat salat hari raya diadakan. Oh, aku terlalu mabuk malam itu. Berbagai kenangan meloncat silih berganti di pikiranku. Jantungku pun berdegup kencang. Keringat bercucuran di kepalaku kendati kipas angin berputar kencang ke arah ku.

Pukul tiga dini hari. Ku dengar lamat-lamat suara ayah yang sedang membaca kitab suci di ruang salat. Ya, aku ingat ayat-ayat itu, kisah tentang burung ababil. Sungguh betapa jauh waktu terbentang, dan malam ini aku diingatkan lagi akan kisah itu. Tidak, bahkan aku tidak bisa lagi membaca tulisan berhuruf Arab. Seperti ada dorongan untuk terus mengikuti suara ayahku. Rasa bersalah mulai menjalari seluruh pori-poriku. Apa ini semua? Aku ingin minum alkohol, bahkan untuk satu teguk saja agar hilang rasa tertekan ini.

Pertarungan antara pikiran dan nurani pun terjadi. Jam di dinding semakin keras detaknya. Malam semakin panas. Kubuka bajuku. Gerah sekali. Lalu kututup kedua belah kupingku dengan bantal. Mataku kupejamkan. Tapi suara itu, hiasan dinding itu, guru mengajiku, masjid, dan gumaman tamu-tamu di perayaan hari besar agama, silih berganti datang dan pergi di pikiranku.

Akalku membela diri. Bukankah tadi aku sudah salat magrib dan isya berjamaah di masjid? Itu tidak cukup. Tidak cukup. Nuraniku berkata. Kuatur nafasku. Masih terngiang kata-kata, tidak cukup, tidak cukup, tidak cukup.

“Aaaaaaaaaa!!!!!!” Tanpa ku sadari aku berteriak. Keras sekali. Cukup untuk membuat ayah membuka pintu kamarku yang tidak terkunci ini.

Aku mengatakan terbangun karena mimpi buruk. Lalu, seperti waktu kecil dulu, ayah menyarankan aku untuk salat malam. Sekarang ayah sudah sangat tua. Berkeriput dan bungkuk. Tidakkah nanti aku akan demikian juga. Atau mungkin aku tidak akan melewati masa itu karena keburu masuk liang lahat.

Aku semakin dicekam rasa takut. Mati. Tanpa sempat bertobat. Neraka. Tanpa pintu menuju surga. Abadi di sana. Lalu, ku kumpulkan seluruh rasa takut itu untuk berjalan ke kamar mandi. Mandi taubat. Tuhan, aku lupa niatnya. Maka kugunakan saja bahasa ibuku. Lalu, berwudhu.

Menetes air mataku saat salat malam ku lakukan. Tertunduk malu saat berdoa. Tapi ada rasa lega setelah itu semua. Rasa yang tak pernah ada sejak belasan tahun lalu. Sayup-sayup terdengar azan subuh dari masjid tempat seluruh peristiwa ini berasal. Kutuntun ayahku menuju masjid itu untuk salat bersama.

Di dalam masjid ku lihat jamaah telah berkumpul. Ku mulai salat sunat. Tidak. Lagi-lagi, aku lupa niatnya.  Setelah salat sunat, sambil menunggu salat subuh berjamaah, mataku tak sengaja melihat sepasang hiasan dinding itu. Bersinar terang sekali. Tapi lembut terasa di jiwa. Tuhan, aku pulang.

Translate »