Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Mata Han Kang: Kegelapan Masa Lalu Korea

Mata Han Kang: Kegelapan Masa Lalu Korea

Kang berangkat dari suara orang-orang bisu — hidup atau mati. Cerita dimulai dengan narasi dari seorang remaja yang bernama Dong-Ho, yang belakangan diketahui juga sebagai korban dari tragedi ini. Berlanjut ke protagonis-protagonis lain yang memiliki keterkaitan dengan Dong-Ho. Mata Malam menjadi sempurna ketika ditutup dengan epilog yang dibawakan Kang sendiri sebagai penulis. Ia menggambarkan pengalamannya ketika tragedi itu terjadi, keseriusannya mencari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tragedi ini, juga wawancara dengan orang-orang terkait.

Suara orang mati lebih keras dari kubur, bukan?

“Namun aku tidak mengenal dunia setelah kematian. Apakah di sana juga ada pertemuan juga perpisahan? Apakah di sana juga ada wajah dan suara? Apakah di sana juga ada kegembiraan dan kesedihan? Aku tidak tahu apakah aku harus kasihan atau iri terhadap ayahmu yang sudah tidak bernyawa,” (hlm. 225).

Selain menyuarakan kebisuan, Kang banyak mempertanyakan kematian yang selama ini pengetahuan kita hanya sebatas melalui keyakinan saja. Proses-proses kekerasan dalam buku ini sungguh memilukan. Kalau kata Kang, “Pengalaman itu seperti racun zat radioaktif. Zat radio aktif tersimpan dalam tulang dan otot selama puluhan tahun, sampai akhirnya mengubah kromosom tubuh, mengubah sel tubuh menjadi kanker, sampai membahayakan nyawa. Walau orang itu sudah mati, walau orang itu sudah dikremasi dan hanya tulangnya yang tersisa, zat itu tidak hilang.”

Detail yang digambarkan Kang begitu terbuka seperti langit di siang bolong. Kita bebas membayangkan kesakitan yang dialami para tokoh. Penggaris kayu 30 cm yang menusuk-nusuk ujung rahim puluhan kali, gagang senapan yang mengoyak pintu rahim yang mengakibatkan tidak bisa punya anak selamanya, tembakan di pinggang, dua tembakan untuk mengakhiri hidup seseorang dengan lubang yang menganga di antara kening. Mengerikan.

Korea, 1980, tragedi yang tidak bisa dilupakan. Sepuluh hari yang mencekam langit Gwangju dan menodai mantel putih Korea. Pertempuran sipil dan negara, seperti negara-negara lainnya. Ketika kekuasaan disalahgunakan, ketika moncong senapan lebih dekat ketimbang tangan seseorang, ketika milisi sipil tidak berani memuntahkan satu peluru pun dari moncong senapan mereka, Korea yang kala itu dipimpin oleh Park Chung-hee selama delapan belas tahun (1961-1979) yang juga melakukan kudeta militer untuk memperoleh kekuasaan dari pendahulunya harus jatuh juga.

Bahkan, ia dihabisi oleh Kepala Badan Intelijen (BIN) Pusat Korea. Seperti ia sedang menuai benih yang ia tanam. Dilanjutkan dengan kepemimpinan Chun Doo-hwan yang menjadi kegelapan bagi Gwangju. Darurat militer diberlakukan, media dibungkam, dan para pembangkang ditangkap. Pada akhirnya, negara dan kekerasan seperti sebuah baju yang bisa dipakai terbalik dari sisi dalam ataupun luar. Akan tetapi, peti-peti mati itu tetap diselimuti oleh bendera Korea. Seolah bukan negara yang  melakukannya. Ya, memang bukan. Negara dan penguasa adalah dua hal yang berbeda. Sipil mencintai negara bukan penguasa.

Translate »