Berbeda dengan tahun kemarin dimana acara perayaan Waisak hanya memusatkan pada prosesi ritual keagamaan Budha, tahun ini pengemasannya juga diselingi dengan seni tradisi masyarakat setempat berupa tari-tarian dan musik. Bahkan sebelum menjelang doa dipanjatkan untuk menanti detik-detik perayaan Waisak, sebuah drama teater yang menggambarkan perjalan Atisa guru dhamma Budha pada masa ribuan tahun lalu ditampilkan lengkap sebagai bentuk pengetahuan arti pentingnya situs candi Muaro Jambi beserta keterkaitannya dengan perkembangan agama Budha di Asia.
Namun, oleh karena bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 2018 ini, acara perayaan Waisak 2018 hanya digelar dari jam satu siang hingga jam sepuluh malam. Adapun rangkaian acaranya hingga malam yaitu diawali dengan prosesi ritual mandi rupang dang prosesi serupa dari beberapa aliran agama Budha, menyanyikan lagu Indonesia Raya, tarian selamat datang, doa-doa pembuka dari perwakilan lintas agama baik dari Islam dan Budha, kata sambutan panitia dan pejabat setempat, penyampaian pesan Waisak, tarian Cinde, sendratari The Journey Of Atissa, pradaksina, amisapuja, tuntunan sila, meditasi, pemberkatan air suci, hingga pelesapan seribu lampion.
Tahun ini Waisak diselenggarakan dengan mengusung tema Harmoni dan Kebhinekaan, sedangkan tahun kemarin bertema toleransi. Tema-tema ini selaras dengan kondisi bangsa yang menuntut peguatan harmoni dan kebhinekaan sebagai nilai yang telah lama dimiliki bangsa Indonesia. Sebagaimana pesan Waisak yang disampaikan bahwa hendaknya setiap indivu mencari penerang dalam menjaga sikap kerukunan, keharmonisan agar sikap keberagaman yang menjadi ciri NKRI tetap utuh.

