Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Budaya Malu Jaman Now

Budaya Malu Jaman Now

Sulit dibantah jika ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa masyarakat kita kini telah dihinggapi pola sikap permisif, yakni suatu sikap yang mengiyakan dan menganggap semua hal serba boleh dilakukan atau suatu sikap yang barangkali kelihatan menjunjung kebebasan sejati. Namun jika ditilik lebih jauh, malah menjadi penyubur kerusakan moral masyarakat dan bangsa. Misalnya saja, perilaku masyarakat yang suka mengumbar hidupnya di media sosial, seperti yang sedang tren saat ini. Banyak ditemukan upload-an foto diri ataupun curhatan yang berseliweran di media sosial, baik hal positif maupun negatif. Eksistensi diri pun menjadi alasan kecuekan. Stigma “semakin cuek / semakin terbuka akan kehidupan, maka akan semakin eksis” mulai merajai sanubari.

Sahabat Puan, budaya cuek ini berjalan seiring dengan menipisnya rasa malu dalam kehidupan masyarakat kita. Seharusnya malu adalah suatu perasaan yang timbul bilamana telah melakukan sesuatu yang hina, tidak baik, cacat, dan rendah dipandang masyarakat, kebiasaan, adat, dan agama. Perasaan seperti inilah yang kelihatan semakin hari semakin langka di kehidupan kita saat ini.

Kita merasa aman-aman saja ketika melakukan kemaksiatan dan dosa. Kebohongan, penipuan, penganiayaan, dan kemesuman merupakan menu yang hampir selalu tersaji di hadapan kita. Semua perbuatan “yang tak tahu malu” ini pun telah dilakukan secara kasat mata menembus segala penjuru dan lapisan di masyarakat kini. Hal baik atau positif menjadi semakin tenggelam dan digantikan oleh gambaran akan keburukan yang terlihat makin biasa saja.

Manakala rasa malu telah hilang, semua perbuatan buruk akan semakin merajalela tak terkendalikan. Perilaku “semau gue” atau “urat malu sudah putus” pada akhirnya membuat kita takpeduli walaupun telah melanggar semua aturan. Atas situasi kebablasan seperti ini Alquran memperingatkan, yakni

Facebook Comments