“Bang, sudah jadwal makan siang nih,” rengeknya setelah selesai berurusan dengan kasir toko buku itu.
Hujan telah reda. Ada pelangi membentang indah di langit kota. Indah, seindah wajahnya yang hanya ber-make up seadanya. Tuhan, celakalah aku. Bayangan masa lalu tentangmu kerap kali menghantui.
Sementara gadis berjilbab merah muda ini, seluruh perilakunya kian menyudutkanku. Ia makan dengan tenang dan diam. Sudut mataku tak pernah sediki tpun lepas dari wajahnya. Wajah yang dapat membuat Ken Arok pun tertunduk malu.
“Jaga mata itu!” katanya sambil tersenyum usai makan siang.
Ampun, ketahuan juga. Semakin tersudutlah aku. Tak tahu hendak bicara apa. Tapi ia begitu pintar mencairkan suasana.
“Setelah kau baca buku itu, aku ingin membacanya,” katanya. “Tidak untuk memercayainya, tapi hanya sekadar menambah wawasan.”
“Untuk apa? Engkau sudah cukup menawan,” kataku seolah salah dengar.
Ia pun tersipu malu sembari mengulum senyuman.
“Ada yang akan kuungkapkan padamu, tapi tidak untuk saat ini,” kataku sambil mengangkat gelas kopi dan menyeruput isinya.
Ia hanya diam. Tertunduk. Seolah menyelami sudut terdalam hati dan pikiranku.
Malam itu, saat hujan datang. Aku berkunjung ke rumahnya. Dengan sinar lampu di ruang tamu yang menyipitkan mataku, tiba-tiba seperti ada beban yang berat di mulutku. Sukar sekali untuk diutarakan.
“Enakkah kopi buatanku? Maukah kubuatkan untukmu setiap hari?” candanya.
“Ehmmm, boleh juga,” kataku.
Hujan tak lagi lebat di luar sana. Tapi rinainya masih terdengar lembut. Selembut tatapan matanya.
Kukuatkan hatiku. Ini saat yang kutunggu. Tak peduli apa pun hasilnya.
“Begini,” kataku gugup. Memperbaiki posisi duduk. Menelan ludah berkali-kali, dan melanjutkan pembicaraan, “Maukah engkau mengisi masa mudaku dan menjadi tua bersamaku?”
“Menasihati anak-anak kita ketika mereka nakal dan membacakan dogeng kepada mereka sebelum mimpi membalut malam?”
Jantungku kian berdegup kencang bagaikan tambur yang dipukul berulang-ulang. Mataku yang makin sipit tak mampu melawan cahaya lampu dan rinai hujan. Aku seperti sedang mendengarkan irama aneh dari negeri antah-berantah.
Engkau lama terdiam.
Aku.
Sunyi.
Hanya bunyi rinai hujan. Menetes satu per satu.
Menit demi menit.
Lalu, “Katakan itu pada ayahku,” katanya.
Tuhan, seolah tulang-tulang di tubuhku luruh semuanya.
“Baiklah,” kataku berusaha menyembunyikan perasaan senang.
Dan malam ini, saat hujan datang, kutelungkupkan fotomu itu. Sekuat niatku berdamai dengan hujan. Dengan masa lalu.
Aku sudah terlalu lelah menapaki rintik hujan. Biarkan kupinang gadis berjilbab merah muda ini sebagai tempat berlabuh selamanya.
