Langit masih gelap. Untuk menuju Masjid Baiturrahman, kami mesti menerobos gerimis. Tiga belas tahun lalu, masjid inilah yang menjadi tempat berteduh dan berlindung para korban Tsunami. Hingga kini, masjid tersebut tetap kokoh dengan infrastruktur yang sangat modern. Bayangkan, parkirannya seperti parkiran mal. Ada portal otomatis yang terletak di underground.
Disinyalir, pengunjung yang hadir di masjid ini sekitar seribu orang per hari. Jika ingin salat berjamaah, jangan lupa menggunakan rok dan membawa mukenah bagi wanita! Dikhawatirkan jamaah tidak kebagian mukenah, mengingat jumlah pengunjung yang berlimpah.
Kalau Sahabat Puan main ke Aceh, selain mampir ke museum dan masjidnya, tak lengkap tanpa menghabiskan hari di warung kopi. Sesuai julukannya, “Negeri Sejuta Warung Kopi”. Pada setiap sudut jalan akan sangat mudah ditemui warung-warung kopi. Entah berapa lama waktu yang akan dihabiskan di sana. Orang-orang seperti sulit beranjak. Lupakan sejenak teknik seduh manual brew atau latte art yang sedang booming di kota-kota seberang! Kopi tarik ala Aceh tetap menjadi pilihan utama. Sanger, Pancong, mie Aceh, dan roti srikaya. Siapkan perutmu, kawan!

Obrolan di warung kopi bukanlah hal sepele. Semua orang dapat membahas apa pun, bahkan dari masakan hingga politik yang hangat. Hangat kopi kali ini ditemani seorang mahasiswa ekonomi pascasarjana. Ketidakpercayaannya terhadap berita yang menyebutkan bahwa Aceh adalah provinsi termiskin di Sumatra menjadi awal cerita. Si kawan menyebutkan bahwa trend penjualan mobil yang meningkat tiap bulannya. Selain itu, masyarakat sangat konsumtif saat menghabiskan hari-harinya di warung kopi. Kategori miskin mungkin perlu ditelisik lebih dalam, terlebih penggunaan kata miskin sangatlah sensitif. “Mana datanya?” ucap Santi dengan penuh sangsi.
Silaturahmi kami kemudian berlanjut ke bagian timur Nanggore, tepatnya di Pantai Lhok Mee, Desa Lamreh, Kabupaten Aceh Besar. Pantai ini hanya dapat dicapai dengan kendaraan pribadi dengan jarak 40 km dari Banda Aceh. Jalannya sangat mulus sehingga perjalanan memakan waktu satu jam saja. Dalam perjalanan menuju pantai ini, kami melewati pantai tempat sepuluh ikan paus yang terdampar di awal November 2017 lalu. Tak dinyana, kehadiran paus-paus tersebut menjadi tanda tanya bagi masyarakat Aceh. Apakah akan ada bencana lagi? Apalagi ketika sepuluh paus diiring pulang ke laut. Ia malah kembali lagi hingga akhirnya empat ekor diantaranya harus meregang nyawa. Dalam sisi lain, masyarakat Aceh tetap mengenang Desember sebagai waktu bencana.
