Saturday, May 9, 2026
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Negeri Sejuta Warung Kopi

Negeri Sejuta Warung Kopi

Negeri Sejuta Warung Kopi1

Tanpa pikir panjang, Aceh menjadi tujuan utama pasca mengikuti kegiatan bertema lingkungan di Medan selama 3 hari. Dari hotel tempat menginap, saya langsung menuju Loket Bus Kurnia, dan mengambil tiket perjalanan Medan – Banda Aceh pada pukul 21.00 WIB. perjalanan memakan waktu dua belas jam. Semua bus Medan – Aceh terjamin nyaman, ditambah kondisi jalan yang mulus dan bebas jerawat.

Perjalanan berakhir di Terminal Batoh, Banda Aceh. Seperti diketahui, di Medan dan Aceh, becak motor mendominasi sarana transportasi dalam kota. Hanya saja, biayanya tidak ramah penumpang. Minimal Rp20.000,00 untuk jarak yang bisa dibilang sekali lempar batu. Untungnya, Aceh sudah punya transportasi ojek online.

Ini ketiga kalinya saya menjamah bumi Serambi Mekkah. Kembali ke Aceh seperti halnya pindah ke bagian dunia yang lain: terbebas dari hiruk pikuk panik di balik beberapa kronik konflik. Saya berlabuh di rumah kawan lama yang berada di Lhong Raya. “Kau lagi,” ucap Santi membuka cerita perjumpaan.

Dengan ceriwis, Santi bercerita banyak hal. Jadwal kedatangan kali ini sedikit mengecewakan. Sebab tidak pas dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW – yang perayaannya bisa sampai dua pekan. Acara budaya yang bisa dibilang gabungan tradisi Islam dan kuliner Aceh, yang bisa disantap tanpa bayar. Juga ada Sail Sabang 2017, yang konon menghadirkan berbagai kapal pesiar dari negeri-negeri luar.

Tiga tahun lalu saat pertama kali ke Aceh, rumah Santi juga menjadi tempat berteduh. Dia mengajak berkeliling sepeda sekadar melihat-lihat Banda Aceh dan sekitarnya. Namun, kali ini dia enggan bernostalgia dengan kayuhan sepeda. “Sudah masuk musim hujan, nanti kita banyak lambat,” ungkapnya. Maka kami menelusiri Aceh dengan kereta (sebutan untuk sepeda motor).

Santi selalu masak makanan khas Aceh untuk menjamu kawan-kawan traveller yang bertamu di rumahnya. Menunya seperti asam ke’eung, telur dadar Aceh, rujak salak Aceh dengan plik’u dan lain – lain. Khayalan pun akhirnya terkabul.

Hari pertama di Banda Aceh, kira – kira baru sepuluh menit berkendara, perjalanan kami menuju museum disambut hujan mendadak. Beberapa ruas jalan sudah tergenang air. Potret kota tidak jauh dari bencana buatan: banjir karena genangan air. Sampah pun disumpahi. Lantas, siapa yang salah?

Museum Aceh mengisahkan benda-benda pusaka, potret masjid dari zaman ke zaman, potret pahlawan hingga pernik pernikahan. Ada pula Rumoh Aceh yang diangkut dari Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial (De Koloniale Testooteling) di Semarang dan diresmikan di Banda Aceh pada tahun 1915. Rumoh Aceh berbentuk segi empat menghadap kiblat. Terdapat ruang besar sebagai tempat menjamu tamu di bagian depan, ruang tengah sebagai ruang keluarga, dan di bagian belakang terdapat dapur lengkap dengan peralatan dari tembikar dan bumbu dapur.

Translate »