Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Layanan Prabayar Sastra Indonesia

Layanan Prabayar Sastra Indonesia

Salah satu angkatan sastra Indonesia dalam periodisasi sastra Indonesia adalah Angkatan ’70 atau dikenal dengan sastra kontemporer. Salah satu tokoh sentral angkatan ini adalah Sutardji Calzoum Bahri (SCB) dengan kredo puisi mantra. SCB dianggap salah satu sastrawan yang melahirkan “pembaruan” dalam puisi Indonesia. Sebelum itu, saya mencatat lompatan pencapaian dalam puisi Indonesia ada pada dua tokoh, yakni Amir Hamzah kemudian Chairil Anwar sebagai tonggak puisi modern Indonesia yang tidak lagi “patuh” pada kaidah konvensional perpuisian Indonesia.

Setelah angkatan kontemporer sastra Indonesia, muncul Afrizal Malna (AM) yang oleh Korrie Layun Rampan digolongkan dalam sastra Indonesia Angkatan 2000. Jika Chairil Anwar mendobrak tatanan bahasa puisi lama dan SCB mengembalikan ruh puisi sebagai mantra dengan membebaskan kata-kata dari beban makna, Afrizal Malna menunjukkan kekacauan bahasa dalam puisinya. Eksperimen bahasa dalam puisi AM dihadirkan seolah ingin mengejek strukturalisme. Berbagai kemungkinan pengucapan ia lakukan seperti puisi “Tidak Ada Artinya: Satu Puisi Berulang” dalam antologi Museum Penghancur Dokumen. Bahkan, baru-baru ini di harian Kompas, 13 Januari 2018, AM memasukkan link internet dalam puisinya. Semua hal menjadi bahasa dan dibahasakan dalam puisi-puisi AM.

Dalam perjalanannya, sejarah sastra Indonesia selalu dipenuhi pesta gagasan. Di era digital, pertemuan gagasan bukan monopoli karya tulis ilmiah / esai di koran maupun jurnal-jurnal, tetapi status-status di medsos adalah gagasan-gagasan yang tidak kalah menariknya melahirkan keterkejutan.

Memasuki era serbacepat ini, kondisi kesastraan pun semakin “semarak”. Inilah era cepat saji kesastraan Indonesia dalam gerbang budaya instan. Budaya instan ini telah menumpuk dalam pola pikir manusia dan berlumut-lumut mengaburkan cara pandang manusia pada proses yang alamiah. Begitulah era sastra kekinian berada, nyaris tanpa kontemplasi. Buku-buku dengan mudah dicetak. Namun, miskin gagasan dan miskin tawaran estetik.

Facebook Comments