Monday, April 27, 2026
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Kampung Nelayan Tua Itu Bernama Sungsang

Kampung Nelayan Tua Itu Bernama Sungsang

Sungai Musi sebagai kolam renang anak-anak desa

Memakan makanan olahan laut seperti pempek udang, tekwan udang, udang goreng, udang bakar, tentu tidak saya lewatkan. Entah sudah banyak sekali yang masuk ke perut. Uniknya, karena berbahan dasar udang, pempek dan tekwan disini berwarna merah muda. Tanpa pewarna tambahan. Kedua pangan olahan tersebut terlihat memesona. Saya pikir ketika kids jaman now yang tingkat ke-baper-annya mudah membludak, cerita pempek mermud (merah muda) ini bisa saja menjadi viral. Keistimewaan lain dari desa ini adalah kita dapat makan di teras rumah sambil melihat sungai sambil melihat peradaban yang terbangun dari kapal-kapal nelayan yang terparkir rapi.

Kami berkeliling desa. Aksesnya sudah bagus, dari desa pertama hingga desa kelima, terhubung oleh jalan beton. Di desa kelima, kami melihat ada PDAM yang dibangun sejak tahun 2006, namun tidak sempat beroperasi karena ada beberapa bagian yang hilang akibat dipinjam tanpa kembali. Entah alasan itu hanyalah tameng atau begitu adanya. Proyek 15 M itu sia-sia saja.

Pembangunan PDAM ini dulunya dimaksudkan agar menjadi sumber air bersih bagi masyarakat, khususnya untuk dikonsumsi. Kebutuhan air bersih masyarakat pesisir, sudah jamak diketahui hanya mengandalkan air hujan semata. Sementara untuk kegiatan MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus) menggunakan air sungai. “Butuh lima puluh gentong air hujan per-KK untuk dapat bertahan di musim kemarau,” ucap si kawan.

Kami juga melintasi tempat pelelangan ikan, yang hari itu tampak sepi, mungkin karena kami datang di siang hari. Tepat di pelelangan ikan ini, kita dapat melihat Pulau Bangka di arah timur. Nun jauh disana, terlihat puncak tertingginya berupa Bukit Maras. Pulau Bangka dapat dicapai menggunakan kapal Ferry, melalui Pelabuhan Tanjung Api-Api. Menuju Pelabuhan TAA dari Sungsang dapat ditempuh hanya dua puluh menit menggunakan motor.

Anak-anak kecil tidak ragu berenang di sungai. Walau apa saja terendam dan terlarut dalam muara Sungai Musi. Mengingat banyak sampah yang dilempar warga dari jendela-jendela rumah. “Ini bukan di kota, cek (sapaan untuk perempuan lebih tua). Tidak perlu pusing masalah sampah,” kata teman saya. Ada sesuatu yang terasa menohok hati saya.

Beberapa waktu lalu, desa – desa  ini pernah didatangi Tim ENJ (Ekspedisi Nusantara Jaya). Sebanyak 25 mahasiswa Universitas Sriwijaya tergabung di dalamnya. Mereka datang membawa isu lingkungan, khususnya di bidang kemaritiman. Kegiatannya lebih kepada pengabdian dalam pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan sosial. Membantu masyarakat membersihkan sampah dan memasukkanny ke dalam karung. Lalu karung sampah itu dibawa ke TPA. Terdapat lima karung sampah plastik yang diangkut. Masyarakat mengakui bahwa kesadaran seperti ini hanya tumbuh sesaat. “Kami butuh pembinaan,” tukas Pak Hendra.

Translate »