Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Jangan Tanya Kapan Saya Menikah!

Jangan Tanya Kapan Saya Menikah!

Sahabat, hidup ini pilihan. Termasuk memilih mengapa belum menikah dan tidak ingin menikah. Bagi yang beragama, jika dia belum menikah, ia mempercayai itu sebuah takdir. Tanpa kita tahu apa takdir berikutnya. Sama ketika orang yang menikah belum punya anak, sudah punya anak lalu sulit dapat anak kedua. Sudah punya anak banyak, tetapi anaknya berjenis kelamin sama. Itu sudah takdir, tak perlu dipertanyakan.

Budaya bertanya manusia, khususnya di Indoensia memang tinggi sekali, tetapi saya tekankan bahwa jika hanya bertanya sekali dan itupun pertanyaan basa-basi karena tak punya referensi pertanyaan yang lain lagi, saya pikir masih dimaklumi. Jika berkali-kali menanyakan masalah terkait status, sungguh menyakitkan hati. Jagalah perasaan orang lain!

Sahabat Puan, banyak alasan mengapa orang belum menikah. Belum menemukan orang yang pas, sudah ada calon, tetapi belum siap untuk hidup berdua alias sedang mengumpulkan dana, dan masih banyak lagi. Jodoh nanti akan datang sendiri. Iya, bagi orang yang benar-benar yakin. Lalu trauma masa lalu terkait percintaan?

“Ah kamu kurang doa dan usaha, makanya belum nikah.”

Urusan besarnya doa dan usaha tak perlu diberi tahu orang lain. Cukup diri sendiri dan Tuhan. Tak perlu direcoki, cukup bantu doa terbaik. Atau siapa tahu, Anda bersedia membantu dana? maka saya dengan senang hati memberikan nomor rekening saya? Ah, tapi saya tak sampai sebegitu  menginginkan dana yang banyak jikapun saya menikah.

Toh, jika sudah datang waktunya, saya bisa saja memutuskan untuk menikah di KUA. Gratis. Cuma modal urus syarat-syarat administrasinya saja. Tak perlu make up, tak perlu perhelatan dengan banyak makanan dan undangan.

Jadi masih mau tanya kapan saya menikah?

Translate »