“Kalau ada yang tanya kapan nikah, jawab gini aja say, “Emang kamu mau iuran berapa buat biaya pernikahanku?” Oke, tetapi saya tak setersinggung itu, hanya sedikit dongkol. Sambil senyum saya jawab pertanyaan seorang kawan itu “Wah, kamu udah siapin kado ya buat pernikahan saya nanti? Tunggu sajalah, nggak usah ditanya-tanya. Mending tanya kabar saya atau pengalaman saya yang lain yang mungkin dapat saya ceritakan ketimbang setiap jumpa kasih saya pertanyaan yang sama.” Dia hanya nyengir.
Lalu saya susul dengan pertanyan, “Kamu apa kabar? Anak sehat? Bagaimana sekolahnya? Sudah kelas berapa?” Saya pikir pertanyaan ini cocok untuk basa-basi bagi kawan lama yang jarang bersua. Lebih variatif dan tak provokatif. Ketimbang “Anak sudah berapa? Oh, sudah tiga? Duh, rapat ya. Tidak KB ya? Kenapa tidak KB? Terus, masih mau buat anak lagi? Kan tiga anaknya cewek semua.” Pertanyaan tersebut tentu bisa menyebabkan dia baper dan pulang-pulang berantem sama suaminya. Ah berlebihan, kalau sudah menikah banyak yang bilang kalau emosinya lebih stabil. Jaminannya? Depend on your faith.
Saya tidak mempersoalkan pertanyaan terkait pernikahan ini jika hanya sekali sebab bisa dibilang masuk kategori basa-basi. Namun jika berkali kali, apalagi sampai menganalogikan orang yang belum menikah seperti barang komoditas yang punya masa berlaku, rasanya kuranglah tepat. Perempuan itu bukan barang, bukan makanan yang ada masa kedaluwarsanya. Wahai orang-orang di luar sana, pikirkanlah pertanyaanmu sebelum menyinggung perasaan perempuan lain.
Saya pikir, laki-laki yang belum menikah juga sebenarnya sama. Hanya perempuan mendapat posisi yang lebih dirugikan. Berikut ini salah satu bukti percakapan di media sosial bahwa posisi perempuan yang belum menikah kurang diuntungkan.
Cowok: “Hai Ta, apa kabar?”
Cewek: “Kabar baik, kamu apa kabar Do?”
Cowok: “Baik. Kamu mengapa belum menikah?”
Cewek: “Ya, memang belum aja.”
Cowok: “Jangan lama-lama! Kasihan, kamu kan cewek. Tunggu apalagi, Ta? Umur sudah berapa? Kalau cowok mah santai.
Cewek: Kasihan? Kayaknya lebih kasihan kamu deh. Kan katanya populasi cewek lebih banyak tuh dari cowok. Lah, mengapa kamu belum menikah? Belum berani melamar ya? Gak kuat modal?”
Cowok: @%%&#
Percakapan ini dikutip dari obrolan seorang kawan dengan kawan yang lain di salah satu personal chat media sosial. Entah apa konteks obrolan ini. Mungkin, ini obrolan pembuka karena lama tak menyapa. Jika demikian, tidak adakah sapaan yang lebih santun yang tak menyinggung perasaan perempuan? Atau sejak awal memang hanya ingin meledek seorang teman yang tengah berjuang menemukan jodohnya atau bahkan sedang mempersiapkan dirinya untuk berumah tangga. Lalu mengapa anggapan kalau perempuan yang belum menikah atau memilih tidak menikah itu suatu kesalahan besar?
