Wednesday, May 19, 2021
Home > Sosok > Perempuan Menulis sampai Mati

Perempuan Menulis sampai Mati

Hj Nursini Rais

Tak ada yang berhenti karena usia yang terus menua, begitupun kreativitas dan mimpi. Hj Nursini Rais, seorang pensiunan guru di SDN 11/III/ Simpang IV Danau Kerinci. Empat tahun setelah tak lagi mengabdi di dunia pendidikan, perempuan yang telah dikarunia tiga orang cucu ini terus ingin berkarya dan bermanfaat bagi banyak orang. Nenek, demikian panggilan kesayangannya, bersama dengan banyak penulis muda lain asal jambi dia tidak sungkan untuk belajar bersama. Baginya sehela nafas lebih bernilai jika dimanfaatkan memburu ilmu dan menulis, daripada seribu tahun bertopang dagu, berkedai siku mengantar matahari bergulir ke barat dan menyambutnya kembali di ufuk timur. Orang-orang yang menyia-nyiakan waktu, adalah orang yang merugi. Nenek Nur mencintai dunia penulisan sejak dia masih remaja. Ketika itu ada sebuah majalah sahabat pena yang terus dia tunggu, dia sisihkan uang yang pas-pasan dimilikinya saat itu. “Untuk membeli majalah itu harus menyisihkan hampir sepertiga uang yang dimiliki setiap bulannya. Tapi ketika bisa membaca dan menulis surat bagi semua teman-teman sahabat pena yang berada di penjuru Indonesia, itu merupakan kebahagiaan bagi saya,” katanya.

Hj Nursini Rais dan keluarga
Hj Nursini Rais dan keluarga

Kecintaannya dalam tulis-menulis, juga berlanjut ketika dia telah menikah. Lelaki yang bernama lengkap Karais ini mendukungnya untuk mencintai hobinya ini. Bahkan tulisan pertama yang pernah dimuat di majalah nasional kala itu menjadi kenangan terindah yang dia ceritakan. “Waktu itu tahun 86-an, tulisan ibu pernah dimuat di Fakta Plus. Itu merupakan majalah skala nasional pertama yang menerima tulisan ibu. Dan Diberi kompensasi sebanyak Rp.5.000,-. Ibu dan bapak membelikan sebuah selimut dan majalah Bobo untuk anak di rumah. Itu kebahagiaan yang susah diungkapkan kata-kata,” kenangnya.

Facebook Comments