Penyebabnya sangat jelas. Mal lebih mampu membuat orang tertarik ketimbang perpustakaan. Coba bayangkan perpustakaan kita bisa menerapkan marketing seperti mal? Hehe. Oiya, satu lagi. Saya dari dulu memperhatikan bahwa sebagian besar masyarakat Jambi ini suka sekali dengan sesuatu yang berprestise tinggi. Dan mal menghadirkan itu, kecuali nanti ketika seperti yang saya bilang, buku sudah menjadi gaya hidup.
Baik Bang Rajib, Terima kasih atas ngobrol-ngobrol santainya. Sukses selalu!
Terima kasih kembali. Sama-sama.

