Mengapa sih mau jadi relawan Lapak Baca Jambi?
Karena saya menyukai buku. Itu saja.
Uang trasnport kan mengeluarkan sendiri ya, Bang? Apa tidak merasa rugi?
Tidak. Toh, saya tidak berjualan jadi tidak ada ruginya. Apa lagi merasa rugi—tentu tidak.
Apa selama ini ada bantuan dari pemerintah?
Tidak. Namun, pemerintah sudah sedikit peduli dengan pengiriman gratis setiap tanggal 17 untuk semua pegiat literasi di Indonesia menyalurkan buku-buku donasi.
Apa sih perbedaan membaca di perpus dengan membaca di Lapak Baca Jambi?
Kalau di perpus ‘kan kita harus membaca dengan tenang. Kalau di lapak kita bisa lebih dari itu. Berlatih membaca dengan adanya gangguan suara dan lainnya. Atau di lapak juga bisa memperbincangkan buku. Ngomongin orang juga boleh. Bebas kok.
Target Lapak Baca Jambi lima tahun ke depan ?
Wah, Jauh sekali lima tahun ke depan. Saya tidak punya target besar-besar. Saya cukup ingin konsisten membuka lapak selama saya masih berada di Jambi. Target kecilnya, saya ingin kurasi buku-buku di lapak, agak-agak berat sedikit deh bukunya. Walau pun saya juga ingin Lapak Baca Jambi menjadi sebuah penerbit dan toko buku, tetapi ‘kan tidak semudah membuat mi instan.
Selama menggelar Lapak, apa pengalaman menariknya?
Bertemu orang dengan latar belakang berbeda-beda. Paling menarik jika saya bertemu seorang penulis. Saya sangat mengagumi penulis.
Kalau pengalaman sedihnya?
Enggak ada secara pasti yang memengaruhi saya untuk sedih. Paling tidak jika ada yang mau ke lapak tapi enggak jadi. Itu aja.
Jika kita berkunjung ke Perpustakaan Kota dan Provinsi Jambi, isinya kebanyakan hanya siswa/mahasiswa/pembaca umum yang memang mencari buku demi kepentingan tugas, mereka tidak akan datang ke perpus jika tidak butuh buku, dan pembaca yang benar-benar haus membaca bisa dihitung pakai jari. Apakah minat literasi sudah semakin ditinggalkan? Bagaimana menurut Bang Rajib?
Saya kira, buku bisa dihidupkan di mana saja. Jadi, tidak ada alasan mengatakan literasi sudah ditinggalkan. Untuk orang-orang seperti itu memang ada dan saya dulu juga seperti itu. Ke perpus hanya untuk keperluan tugas. Ya, saya kira soal literasi ini hanya masalah akses bukan minat. Saya berkhayal satu hari buku bisa menjadi gaya hidup. Maksudnya, walaupun hanya digunakan untuk gaya-gayaan saja sudah sangat menyenangkan. Orang-orang akan jalan dengan buku di tangannya. seperti fenomena gawai sih, lebih kepada gengsi daripada fungsi.
Kalau dilihat-lihat, gedung bioskop dan mal lebih ramai daripada dua gedung perpustakaan Jambi, menurut Bang Rajib apa sih penyebabnya?
