Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Sebelum berbicara serius tentang buku yang akan dibahas pada opini kali ini, mungkin ada baiknya saya mengucapkan selamat pada penulis. Sebab, buku itu mengantarkannya menjadi nomor satu dalam sebuah kompetisi. Saya tahu, untuk berada pada posisi jawara ia harus menyepi beberapa waktu ke sebuah kampung. Ya, memang tidak mudah untuk sekadar menjadi penulis cerita anak.

Kesulitan itu juga dirasakan kawan saya dari Blitar ketika mengikuti pelatihan penulisan cerita fiksi dan non fiksi tingkat Jawa Timur di Batu baru-baru ini. Butuh kesabaran dan dedikasi untuk menghasilkan cerita yang bagus. Apakah setiap orang bisa menulis? Saya kira iya, tinggal sekarang pertanyaannya: seberapa seringkah mereka melatih kepekaan dalam mengolah rasa dan menyusun kalimat?.

Rini Febriani Hauri adalah nama yang tidak asing di telinga saya. Kemampuannya dalam mengolah kalimat hingga menjadi bait-bait cerita yang rancak sudah tidak diragukan. Opini ini tidak bermaksud mencari titik lemah karangannya, melainkan sekadar apresiasi dari sahabatnya di Banyuwangi.

Kurang Beruntung

Saya mungkin tergolong orang yang kurang beruntung. Ada beberapa sebab sehingga menjadikannya demikian. Pertama, ketika kecil saya jarang dibacakan cerita anak oleh orangtua. Kedua, meski chating hampir setiap hari tetapi saya belum pernah bertemu dengan Rini. Bagi sebagian orang ini aneh dan menggelikan. Atau mungkin mereka akan bilang ‘sok kenal dan sok dekat’.

Meskipun belum pernah bertemu tetapi saya berusaha paham dengan karakter dan pemikiran Rini lewat karya-karyanya. Suatu Sore, Bersama Jassin adalah karya pertama yang saya baca. Melalui puisi-puisi yang ada di dalamnya, ia ingin menyampaikan sebuah pesan rindu. Rindu ini tidak sebatas pada seorang kekasih tetapi rindu di antara masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Saya menikmati permainan bahasanya yang renyah dicerna. Walaupun terkadang ia menggunakan istilah kurang puitis –cagar budaya contohnya– namun bukan berarti tidak memiliki makna dan arti.

Facebook Comments