Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Permainan Bahasa Lokal dalam Cerita Anak Milenial

Meski banyak menggunakan bahasa lokal tetapi ia tidak lupa untuk memberi penjelasan secara sederhana. Oh iya, kata Sang Tangan Besar, ladam adalah salah satu kosakata lama yang sudah jarang digunakan lagi. Tetapi kosakata ini masih ada dalam kamus bahasa Indonesia. Nah, orang-orang kampung di sini menyebutnya dengan tapal kuda. Tapal kuda adalah besi bekas sepatu kuda berbentuk huruf U. Cara yang cukup cerdik untuk menjebati para pembaca buku yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah.

Serupa Beda Arti

Jika boleh jujur, peristiwa keterasingan bahasa semacam itu tidak hanya didera oleh Jambi saja. Jawa pun hingga sekarang mengalami hal serupa. Bahkan, bahasa kami itu hampir dihapus dari mata pelajaran sekolah. Kemarin ketika saya bertemu dengan adik kelas, kami sempat memperbincangkan soal penggunaan bahasa Jawa yang salah kaprah. Kebetulan ia dulu kuliah di program studi bahasa Jawa.

Tanpa sadar orang Jawa zaman sekarang menggunakan bahasa yang salah kaprah (keliru tapi dibenar-benarkan). Kata réncang sering diartikan oleh banyak orang sebagai teman. Padahal jika dilihat kembali di dalam Bausastra Jawa arti kata ini yang sesungguhnya adalah batur atau réwang (pembantu). Artinya, kata tersebut telah mengalami penurunan makna. Sama seperti kata wanita dalam kumpulan cerita anak Lubuk Bumbun. Lalu si Tangan Besar menjelaskan padaku kalau kata wanita memiliki arti yang lebih sopan daripada perempuan. Untuk orang-orang yang kau hormati, kau bisa menyebutnya wanita bukan perempuan.

Bahasa lokal yang digunakan Rini dalam karangannya lebih banyak bahasa daerah Jambi. Namun di antaranya saya menemukan istilah serupa yaitu ambung, yang masih digunakan dalam bahasa Jawa hingga kini tetapi beda arti. Kata ini dalam bahasa daerah Jambi diartikan keranjang dari rotan yang dipakai penduduk kampung ketika pergi ke sawah. Sedangkan, kata ambung dalam bahasa Jawa artinya tumèmpèling irung ing pipi (melekatnya hidung di pipi) atau mencium pipi seseorang dengan hidung.

Selain kata ambung ada kata lain yang sama dalam pengucapan maupun artinya yaitu dalu. Kata dalu baik dalam bahasa Jambi maupun Jawa sama-sama diartikan sebagai malam. Hubungan yang cukup erat antara Jambi dan Jawa digambarkan Rini dalam cerita melalui kalimat: juga, dulu ada seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Pinang Masak. Kulit tubuhnya putih kemerah-merahan seperti kulit buah jambé/buah pinang yang sudah masak. Karena kecantikan putri ini terdengar sampai kerajaan Jawa, raja-raja Jawa lantas menyebut Putri Pinang Masak tinggal di Kerajaan Jambé. Lama-lama sebutan jambé berubah menjadi jambi.

Translate »