Soe Tjen memperlihatkan bahwa otobiografi yang ditulis pada masa Orde Baru harus “menaati” aturan pemerintah. Kasus yang paling menarik adalah otobiografi Herlina pada edisi kedua. Ada beberapa bagian yang mengharuskan Herlina untuk mengganti teks yang awalnya netral menjadi mengagungkan penguasa Orde Baru. Hal serupa juga terjadi pada buku harian yang dipublikasi. Sebagai contoh, buku harian Soe Hok Gie yang terkenal itu, Catatan Seorang Demonstran, menurut Soe Tjen tak luput dari sensor Orde Baru.
Tak ingin terperosok pada jebakan yang justru melegitimasi kekuasaan Orde Baru, bahwa Orde Baru tak terkalahkan, Soe Tjen mencari kemungkinan perlawanan yang sayup-sayup disuarakan buku harian dan otobiografi. Meskipun dalam otobiografi para penulisnya masih menyalahkan perempuan atas terjadinya diskriminasi sosial dan stereotipe yang merugikan perempuan, yang menyiratkan betapa kuatnya cengkeraman ideologi dalam memanipulasi perempuan, tampak adanya perlawanan dalam buku harian. Menurut Soe Tjen, dibandingkan dengan otobiografi, buku harian memang lebih dapat menjadi cermin dari politik dan ideologi yang lebih nyata.
Sejak awal, Soe Tjen memang menggambarkan Orde Baru dengan nuansa tutur yang sinis. Karena itulah, buku ini cenderung ditulis dengan penalaran deduktif. Otobiografi dan buku harian semata alat untuk mendukung premis yang sudah diyakini di awal, bahwa sangat sulit—untuk tak mengatakan tak mungkin—lolos dari cengkeraman Orde Baru. Salah satu implikasinya, pembahasan menjadi tidak merata. Data yang mendukunglah yang lebih banyak dibahas. Otobiografi Inggit dan Herlina, misalnya, mendapatkan porsi jauh lebih banyak dibanding otobiografi yang lain.
Orde Lama hampir tak disinggung padahal para penulis otobiografi hidup pada zaman Orde Lama. Itulah yang menyebabkan Soe Tjen menjadi berat sebelah dalam memandang Orde Baru dan Orde Lama. Samar-samar terlihat bahwa Soe Tjen menganggap Orde Lama lebih membebaskan perempuan di wilayah publik.
Di luar itu, saya sepakat dengan Susan Blackburn bahwa Soe Tjen memberikan analisis yang mendalam untuk menguatkan gagasan-gagasannya. Ia juga menunjukkan sensitivitas dan gaya yang tangguh dalam analisisnya terhadap objek material yang dipilih. Buku ini berhasil menjadi “pintu”, ruang antara yang mempertemukan dua dunia yang seolah bertentangan, dunia otobiogafi yang publik dan dunia buku harian yang privat. Melalui buku ini, pembaca pun jadi tahu, bahwa untuk mencurahkan perasaan dengan bebas dan tanpa rasa bersalah adalah sebuah perjuangan bagi perempuan.
