Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Resensi > HIV dalam Sebuah Novel

HIV dalam Sebuah Novel

Buku ini mengupas pemahaman tentang HIV dan AIDS

Judul Buku : Jangan Bawa Pulang HIV
Penulis : Ramdani Sirait
Penyunting : Ramdani Sirait
Penerbit : PT Nugraha Hokia Utama
Cetakan : Pertama, November 2015
Tebal Buku : Xiii + 221 halaman
ISBN : 978-602-73533-0-5

Buku ini merupakan novel yang berdasarkan fakta dan data. HIV dan AIDS yang selama ini mengisi ruang-ruang Koran, televisi dan seminar ternyata bisa saja sangat dekat dengan kehidupan kita. Penyakit yang menjadi momok ini bisa saja menjangkiti kenalan, sahabat, keluarga bahkan kita sendiri. Pengalaman Gayatri dan Anisa yang mendapati dirinya terserang penyakit yang selama ini masih dianggap sebuah kutukan, ternyata bisa menghinggapi dua perempuan baik, ibu rumah tangga yang menjaga kesetiaannya kepada suami. Dan kedua suami mereka yang digambarkan dalam buku ini adalah suami-suami yang baik dan bukan penjelajah cinta, yang hanya karena sebuah kesalahan kecil akhirnya terjebak dalam penyakit yang akhirnya merenggut nyawanya. Seperti tokoh Baskara yang disebutkan dalam buku ini adalah suami Gayatri yang sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab. Entah dimana dia terjebak menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan tidak aman, sehingga kematian merenggut nyawanya dan kebahagiaan isteri dan dua anaknya. Berbeda Gayatri, Annisa juga perempuan malang yang tertular dengan suaminya Ryandra yang ternyata adalah penyuka sesama jenis. Kebohongan, pengkhianatan dan kekecewaan berbaur menjadi satu bersama penyakit HIV membayangi kehidupannya. Bahkan Ryandra tidak mau memeriksakan dirinya, walaupun dia tahu sejak sebelum mengenal Annisa dia sudah melakukan hubungan seksual dengan sesame jenis. Dia berpikir HIV tidak ditularkan melalui hubungan sesama jenis. Dia berpikir perempuan lah yang membawa dan menyebarkan penyakit tersebut. Kebodohan dan piciknya pikiran tersebut, akhirnya membawa duka bagi perempuan yang selalu menjaga kesucian dan kesetiaannya. Ada lagi sosok Lusiana, yang digambarkan sebagai perempuan cerdas dan pengusaha sukses yang memilih untuk menikmati hidupnya sendiri. Ketiga sahabat ini saling menguatkan dan memberikan dukungan. Mereka secara terbuka dan teredukasi dengan pemahaman tentang HIV, mereka melakukan berbagai upaya medis untuk menjalani hari tanpa harus takut, malu dan bersalah dengan penyakit tersebut. Pernikahan Annisa dengan laki-laki yang dianggapnya sempurna itu tanpa pengenalan yang dalam, dia menjadi korban atas kemunafikan suaminya yang menjadikan pernikahan sebagai topeng atas penyimpang seksual yang dideritanya. Parahnya lagi kedua orangtua Ryandra tahu akan kelainan seksual yang diderita anaknya dan menjadikan pernikahan dan Annisa sebagai tumbalnya demi nama baik keluarga. Sementara budaya sumatera yang masih kental dalam keluarga Annisa, juga membuat Annisa ragu untuk mengakhiri hubungan pernikahan dengan Ryandra yang sudah membuat hidupnya menderita. Annisa takut keluarga besarnya akan terpukul dengan perceraian. Karena perceraian sama menakutkannya dengan HIV bagi pemikiran keluarganya. Namun hati ibu, tetaplah seorang ibu yang memiliki lautan kesabaran dan pelukan yang nyaman di saat kita tidak tahu lagi kemana harus mengadu. Ibu Annisa mengerti dengan kondisi itu, dan mendukung tindakan Annisa untuk bercerai.

Facebook Comments

Comments are closed.