Tuesday, July 7, 2026
Home > Literasi > Resensi > Perempuan di antara Buku Harian dan Otobiografi

Perempuan di antara Buku Harian dan Otobiografi

Perempuan di Antara Buku Harian dan Otobiografi

Sementara itu, ada sembilan buku harian yang digunakan sebagai pembanding. Buku-buku harian itu milik para perempuan yang, katakanlah, biasa saja dan tidak populer. Karena sifatnya yang lebih privat, Soe Tjen mengharuskan dirinya untuk menyamarkan nama-nama pemilik buku harian tersebut. Tidak mudah untuk mendapatkan buku-buku harian itu, tapi Soe Tjen memiliki kegigihan seorang peneliti. Untuk mendapatkan kesembilan buku harian itu, selain melalui pengumuman media massa, Soe Tjen juga mewawancarai dan meyakinkan para pemilik otobiografi akan jaminan kerahasiaan.

Buku harian dan otobiografi tersebut ditempatkan dalam lingkup kekuatan ideologi Orde Baru, terutama yang berkaitan dengan gender dan isu perempuan. Soe Tjen berasumsi bahwa ideologi dan politik tidak dapat dipisahkan dari catatan pribadi. Karenanya, dialog dan tawar-menawar antara identitas dan ideologi tidak dapat dipisahkan dari buku harian dan otobiografi. Lebih lanjut, Soe Tjen ingin membuktikan bahwa ideologi Orde Baru begitu represif hingga mampu masuk ke wilayah-wilayah yang paling pribadi.

Ideologi Orde Baru digambarkan sebagai ideologi yang selalu menempatkan perempuan sebagai subjek yang paling dirugikan. Kejahatan pemerintah Orde Baru terhadap perempuan, menurut Soe Tjen, antara lain adalah terlalu ngotot dalam memilah, menciptakan, mendoktrinasi, dan memaksakan konsep gender. Kepasrahan perempuan dianggap sebagai pengabdian pada bangsa. Aturan monogami yang seolah-olah membela perempuan justru sangat melemahkan perempuan. Selain itu, masih menurut Soe Tjen, indoktrinasi agama semakin menempatkan perempuan sebagai pengabdi suami. Ancaman dosa pun semakin mengerdilkan nyali perempuan.

Dua pokok besar yang dilihat Soe Tjen dari otobiografi dan buku harian terkait dengan ideologi Orba tersebut adalah ambisi dan seksualitas. Dalam hal ambisi, otobiografi cenderung menyembunyikannya dan menggantinya dengan dukungan terhadap suami atau orang lain. Penulis otobiografi memperlihatkan dirinya sebagai makhluk yang tidak ambisius. Sebaliknya, para penulis buku harian lebih bebas mengungkapkan ambisi-ambisinya dan menojolkan dirinya sendiri.

Dalam hal seksualitas, otobiografi memperlihatkan bahwa ideologi Orde Baru ditambah dogma agama dan sistem partiarki Jawa mengharuskan perempuan untuk mengebiri hasrat seksualnya. Meskipun pengecualian diperlihatkan oleh otobiografi Inggit dan Herlina, mereka masih menganggapnya sebagai dosa atau tindakan yang tidak patut. Dalam buku harian, para penulisnya menuliskan seksualitas dengan penuh keraguan dan banyak mengutuki diri sendiri. Seksualitas bukan hal yang bisa dinikmati, tetapi sudah berubah menjadi konflik sosial.

Translate »