Thursday, April 2, 2026
Home > Literasi > Resensi > Perempuan di antara Buku Harian dan Otobiografi

Perempuan di antara Buku Harian dan Otobiografi

Perempuan di Antara Buku Harian dan Otobiografi

SAYA membaca buku ini dalam suasana hati yang penuh penyesalan. Mengapa? Sebagai penulis buku harian yang tak begitu istiqomah, saya merasa terlambat menemukan dan membaca buku Kisah di Balik Pintu ini. Ditulis oleh Soe Tjen Marching, buku ini menjadikan buku harian dan otobiografi sebagai pintu masuk untuk melihat lebih dalam isi hati dan pikiran perempuan. Memang, penelitian terhadap dunia perempuan sudah jamak dilakukan, apalagi dalam hubungannya dengan wilayah publik dan domestik. Akan tetapi, alternatif yang unik dalam pemilihan objek material tersebut menjadikan buku ini memiliki daya magnetnya sendiri.

Mulanya, buku ini adalah disertasi yang diterbitkan dengan judul The Discrepancy between the Public and the Private of Indonesian Women oleh The Edwin Mellen Press pada 2007. Buku itu kemudian diterbitkan dalam edisi “populer” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penulisnya sendiri. Menurut Susan Blackburn, yang memberi pengantar, buku ini “amat original dan menggebrak” karena di Indonesia belum pernah ada penelitian terhadap otobiografi dan buku harian seperti yang dilakukan Soe Tjen.

Tak perlu disangkal, mengorek-ngorek rahasia orang lain yang paling tersembunyi adalah suatu hal yang menyenangkan dan mendebarkan, bukan? Namun, apakah Soe Tjen bertungkus lumus dengan otobiografi dan buku harian semata untuk tujuan banal itu? Tentu tidak. Buku ini memiliki ambisi yang jelas lebih besar dari itu.

Sebagai media yang digunakan untuk, katakanlah, mengekspresikan diri dan mencurahkan isi hati, otobiografi dan buku harian seringkali diletakkan pada dua kutub yang berlawanan. Otobiografi siap dipandang publik, sedangkan buku harian justru bersembunyi dari tatapan publik. Akan tetapi, Soe Tjen memperlihatkan bahwa kedua hal itu tidaklah mutlak. Antara yang publik dan yang privat dalam otobiografi dan buku harian tidak dapat dipisahkan dengan jelas.

Bagi saya pribadi, tak ada temuan yang lebih menarik selain ini: “meskipun bersembunyi dari tatapan publik, tetap ada keinginan buku harian untuk dipandang”. Ini terbukti dari adanya “pembaca lain” dalam buku harian, entah itu disadari atau tidak. Dibandingkan otobiografi, buku harian memang memiliki keleluasaan dalam mengekspresikan diri dan dari norma masyarakat. Namun, kerap tanpa disadari, pandangan dari luar seringkali masuk dalam diri para penulis buku harian. Inilah yang kemudian digali lebih dalam oleh Soe Tjen.

Tak tanggung-tanggung, dalam penelitiannya ini Soe Tjen menggunakan delapan otobiografi. Otobiografi itu diambil dari para nasionalis atau kerabat nasionalis, atau orang yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, di antaranya, Mencari Makna Hidupku (Sujatin Kartowijono, 1983), Bapakku Ibuku (Rachmawati Soekaro, 1984), Pending Emas (Herlina 1985), Bangkit dari Dunia Sakit (Herlina, 1986), Kuantar ke Gerbang (Inggit Garnasih, 1988), Kisah Cinta Inggit dan Bung Karno (Ratna Juami Asmarahadi, 1992), Bung Tomo Suamiku (Sulistina Soetomo, 1995), dan Lasmidjah Hardi: Perjalanan Tiga Zaman (Lasmidjah Hardi, 1997). Di sini, Soe Tjen tak memakai kategori yang ketat terkait mana yang otobiografi dan mana yang biografi. Buku Kuantar ke Gerbang misalnya, yang oleh penulisnya dimaksudkan sebagai kisah cinta, tetap dimasukkan dalam otobiografi. Selain itu, riwayat Lasmijah Hardi juga tetap dimasukkan dalam kategori otobiografi meskipun ditulis oleh orang lain.

Translate »