Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Resensi > Memuja Keret: Seorang Yahudi yang Cinta Damai

Memuja Keret: Seorang Yahudi yang Cinta Damai

The Seven Good Years

ETGAR KERET menulis memoar berjudul The Seven Good Years. Sebuah memoar yang ditulis dengan sangat baik dan memikat. Dari buku ini saya bisa mengerti mengapa seorang wartawan memiliki antusiasme ketika mewawancarai seorang penulis atas suatu kejadian. Sebab, pendapat seorang penulis itu orisinil dan memiliki visi. Itu yang saya tangkap dari seorang Keret setelah membaca memoarnya ini.

The Seven Good Years adalah memoar pertama yang pernah saya baca, sekaligus menjadi buku pertama yang saya baca hingga tuntas di tahun 2017. Hanya butuh dua hari menyelesaikan memoar sepanjang 193 halaman ini. Dalam memoar ini, Keret bertutur dengan jujur dan humoris ketika mengisahkan masa selama tujuh tahun sejak rentang kelahiran anaknya dan ditutup kematian ayahnya. Di halaman kata pengantar Eka Kurniawan menulis: Keret memiliki humor yang melimpah. Saya membenarkan itu setelah membaca dan menamatkan bukunya. Berulangkali saya tertawa dan mengumpat, bagaimana caranya seorang Keret bisa bertindak seperti ini, selalu penuh dengan canda dan sangat baik dalam memainkan ironi.

Buku ini tak hanya dipenuhi humor, Keret juga berhasil membuat mata saya berkaca-kaca ketika membaca bab “Lelaki Jangan Menangis”. Ini adalah bagian paling mengharukan di dalam buku Keret. Dengan meminjam judul salah satu bab, Memuja Idola, maka saya akan memuja Keret sebagi idola, seperti halnya dia memuja seorang kakak lelakinya. Ia selalu mengidolakan setiap progres yang dialami oleh sang kakak.

Saya ingin seperti Keret yang berkeliling dunia mengikuti festival membaca dan menulis. Saya ingin seperti Keret yang berdebat dengan istrinya karena terlalu baik dan mempersilakan sopir taksi memakai kamar mandinya, sampai mengadakan survey kecil-kecilan untuk melihat hipotesis siapa yang diterima: Keret atau istrinya. Saya ingin seperti Keret, memiliki keluarga yang terlihat unik dengan seorang istri yang menyenangkan, serta memiliki seorang anak yang seperti Keret. Saya ingin seperti Keret yang memiliki seorang Ayah yang penuh optimisme di sisa hidupnya. Saya ingin seperti Keret yang selalu memandang setiap kejadian memiliki sebuah hikmah bahkan sangat filosofis bagi keluarganya. Saya ingin seperti Keret yang selalu memiliki cara menenangkan anaknya.

Facebook Comments