Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Resensi > Despotisme dari Ruang Gelap

Despotisme dari Ruang Gelap

Novel Dostoyevski berjudul Zapiski Iz Podpol’ya dalam bahasa Rusia pertama kali terbit pada tahun 1864. Terjemahan novel ini dalam bahasa Indonesia berjudul Catatan dari Bawah Tanah. Pernah tiga kali cetak di bawah penerbit PT Dunia Pustaka Jaya, yakni pada 1979, 1992, dan 2008.

Dostoyevski memiliki nama asli Fyodor Mikhailovitsy Dostoyevski, ia merupakan sastrawan terbesar Rusia yang karya-karyanya banyak memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan karya sastra dunia di abad ke-20. Ia telah menulis banyak novel yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Novel Catatan dari Bawah Tanah yang berbobot falsafi ini terdiri atas dua bab utama. Bab pertama terdiri atas sebelas bagian. Sementara bab kedua berisi sepuluh bagian. Gaya penulisan novel ini dibuat seolah seseorang yang tengah mencurahkan isi hati dan perasaannya kepada orang lain. Dostoyevki menyapa pembacanya dengan sebutan “Tuan-Tuan” meski tidak semua pembacanya adalah laki-laki.

Baca juga: Memuja Keret: Seorang Yahudi yang Cinta Damai

Pada bab pertama, Dostoyevski memunculkan sosok Aku sebagai tokoh utama – lelaki empat puluh tahun yang hidup di bawah tanah. Aku dalam novel ini mengaku sebagai seorang yang cerdas – yang pemikirannya di atas rata-rata. Kecerdasannya itu sungguh menyiksa batinnya, sebab ia tidak mampu melakukan hal-hal spontan tanpa ia pikir terlebih dahulu.

Di bagian pembuka, Aku mengatakan bahwa dirinya orang sakit yang pendendam. Aku memaparkan pemikiran-pemikirannya mengenai kehidupan – yang sangat berbeda dengan pemikiran orang-orang kebanyakan. Aku juga menceritakan tentang kejadian yang telah ia alami selama hidupnya.

Sosok Aku dalam cerita ini tidak digambarkan fisiknya sehingga pembaca bisa merasakan bahwa tokoh Aku yang hidup di bawah tanah, seperti bagian yang tercerai-berai. Ia seperti ada di mana-mana: di dalam buku, di dalam dinding rumah atau di dalam tubuh pembaca. Tokoh Aku dalam beberapa hal dapat dikatakan sebagai orang yang bijak, namun di lain hal ia penuh dengan keragu-raguan. Karakter dari tokoh Aku sulit sekali ditemukan secara utuh mengingat ia bukan hanya sakit secara fisik, tapi juga secara psikis. Nuansa gelap dan suram benar-benar kentara.

Baca juga: Dongeng Filsafat Satire Khas Voltaire

Kisah pada bab pertama ini, tokoh Aku seolah-olah berusaha menelanjangi kebobrokan manusia, seperti keserongan moral, kepengecutan, ketakutan, keputusasaan, hingga sisi terburuk manusia.  Hemat saya, Dostoyevski berbakat menjadi filsuf meskipun selama hidupnya ia tak pernah menelurkan buku teori filsafat. Saya jadi teringat eksistensialisme Jean Paul Sartre yang banyak menggarap permasalahan dan menitikberatkan ini pada sosok manusia. Ketika manusia sadar akan dirinya sendiri, maka dia terhubung dan berhubungan dengan sesuatu yang bersifat dinamis dan berubah-ubah. Kisah ini sarat dengan hal tersebut.

Facebook Comments