Akhir kata, hanya begini saja yang Alisya dapat tuliskan mengenai pengalaman hidup Alisya. Maaf ya Bu Guru, tangan Alisya sudah pegel-pegel. Tidak dapat nilai A juga tidak apa-apa. Alisya sayang sama Bu Guru. Ibu baik, sama seperti kakak Alisya. Cuma sayangnya kakak Alisya suka menangis, kadang nangis karena rindu ayah dan ibu, kadang dia nangis karena katanya takut tidak dapat suami. Duh, maaf ya Bu bila terlalu banyak cerita tentang Kak Syifa di sini. Soalnya, ya mau bagaimana lagi Alisya sayang sekali sama kakak Alisya. Sejak tiga tahun lalu hingga kini hanya kakak saja yang menemani Alisya.
Oya, sebenarnya, saat ini Alisya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, dan waktu itu mungkin kak Syifa hanya tidak tega saja menceritakan kejujurannya kepada Alisya. Ya…, semoga tak akan ada lagi kesedihan yang membuatmu menangis Kak Syifa. Untuk Ayahanda dan Ibunda, damai dan tenang ya di sana, jangan lupa makan yang banyak.
Sekayu, 2012 – 2017

BIODATA :
Herdoni Syafriansyah lahir di Kayuara – Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 7 Oktober 1991. Pendiri Perkumpulan Seni, Sastra dan Budaya Arus Musi (ARSI) Kabupaten Musi Banyuasin. Menghadiri seminar Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V di Palembang (2011), Temu Sastrawan Indonesia (TSI) ke-4 di Ternate Maluku Utara (2011), dan Pagelaran Sastra Lisan Balai Bahasa Sumatera Selatan (2016). Puisi dan cerpennya dipublikasikan beberapa media cetak seperti Majalah Sastra Horison, Dinamika News, Tembilang Jambi, Sumatera Ekspres, Berita Pagi Sumsel, Harian Musi Banyuasin, Majalah Pemprov Sumsel Young –G, Majalah Muba Randik, dan ragam media cyber sastra lainnya. Buku pertamanya yang sudah terbit, antologi puisi berjudul: “Aku Burung dan Kau Pisau yang berputar” (Digna Pustaka, 2012). Karya-karya puisinya juga termuat dalam beberapa antologi bersama lainnya seperti: Perahu Kelebu (Hasfa Publishing, 2011), 125 Puisi Pahlawan FSBP (UmaHaju, 2011), Tuah Tara No Ate (Ummu Press, 2011), Munajat Tugu Bundaran (Digna Pustaka, 2014), dan lainnya.
