Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Kakakku Jangan Menangis

Kakakku Jangan Menangis

Kakakku Jangan Menangis

Lalu Pak Lurah memanggil kakakku untuk berbicara bersama sepupu Ibu di ruang depan. Setelah itu kakak berkata kepadaku, “Dik, untuk sementara kita tinggal di sini dulu. Ini rumah sepupu Ibu, Paman kita.”

Aku bingung, ingin aku bertanya, “kenapa dengan rumah kita?”

Namun, aku tak jadi bertanya. Entah kenapa aku merasa pertanyaan itu tidak tepat, tidak tepat saja. Lalu kakak berkata lagi, “mengenai rumah kita, Paman yang akan mengurusnya.” Aku hanya menggangguk saja.

Dan kami bercanda di dalam kamar hingga tertidur.

Sekarang kami pergi, pindah ke Sekayu, Musi Banyuasin. Masih wilayah Sumsel kata kakak. Di sini biaya sekolah tidak mahal –kakak berencana mencari kerja dan ingin menyekolahkan aku, itulah sebabnya mengapa kakak memilih tempat ini.

Dua hari kami tidur di masjid. Dua hari pula kami makan apa saja seadanya, sekedar penunda ajal. Lalu kakak mengajakku berkeliling jalan kaki. Ada hajatan nikahan di daerah yang bernama Kelurahan Soak Baru. Kakakku beranikan diri meminta makan. Tuan rumahnya baik, kami diajak ke rumah dan makan sepuasnya bersama rombongan pemain orkes yang baru datang.

Ketika melihat paras kakakku, pemilik orkes itu langsung tertarik dan bertanya maukah kakakku menjadi biduan. Soal suara bisa belajar lantaran kakakku masih muda. Sedang soal tampang, katanya, tampang kakakku sangat menjual. Kamu punya pesona dan talenta seorang bintang katanya lagi. Kulihat kakak tersenyum. Rasanya hati lebih tenteram. Aku suka bila melihat kakakku tersenyum.

Setelah itu kami tinggal di rumah pemilik orkes itu, tetapi tidak lama. Hanya satu minggu. Setelah kakakku punya uang hasil dua kali manggung, kakak langsung menyewa tempat kost-an yang sederhana, seadanya, semiskinnya, namun kami bahagia.

Pemilik kost kami adalah seorang janda dengan tiga orang anak lelaki. Dua sudah menikah, satu masih kuliah. Karena semua anaknya laki-laki maka ia sangat sayang pada anak perempuan; pun halnya kepada aku dan kakakku.

Tiga tahun berlalu, kakak mampu menyekolahkanku bahkan kehidupan kami semakin membaik dengan pekerjaannya sebagai biduan dan pekerjaan tambahannya. Banyak orang yang terkadang memandang rendah kepada kakak, bahkan juga aku. Untungnya ibu kost kami orang yang sangat baik.

Aku sedih, mengapa orang suka memandang rendah kami. Padahal kami selalu berusaha untuk baik kepada mereka. Mungkin bagi sebagian orang, biduan adalah pekerjaan yang sangat rendah derajatnya. Namun aku masih ingat jelas ucapan guruku, ia pernah bilang bahwa orang yang selalu mengumbar janji namun tak bisa menepati, suka menyakiti dan berhati dengki, menyikut orang lain demi kerakusan, mengambil hak-hak orang lain, dan banyak lagi hal-hal serupa sejenis, itulah serendah-rendahnya budi dan pekerjaan seseorang. Sekarang aku bingung. Baik dan buruknya seseorang siapa yang memutuskannya?

Translate »