Kemarin, kalau tak salah Uni menjadi juri di FTJ (Festival Teater Jakarta) Dewan Kesenian Jakarta, ada berapa perempuan yang menjadi juri? Bagaimana peran perempuan di teater menurut pandangan Uni?
Belum. FTJ baru di gelar 8–16 November 2017 dengan 16 pementasan. Juri perempuan khususnya teater sejak 1975 – kini agak langka. Mungkin baru dua atau tiga, tapi yang aku tahu itu Naniek L. Karim dan Evan Ys. Entahlah kalau ada satunya lagi. Sama sih, teater tidak bicara tentang jenis kelamin. Maksudnya, tidak membeda-bedakankan, terbuka luas, sebagaimana bidang sastra lainnya.
Meski telah ada film yang diputar di bioskop-bioskop, teater selalu memiliki tempat bagi pencintanya. Bagaimana dua perbandingan antara teater dan film?
Tentu! Sebab beda bentuk dan beda peminat. Mungkin ini bukan perbandingan yang pas, tetapi tentu berbeda. Teater perlu karakter yang kuat, akting yang bagus, pembacaan naskah yang tidak sebentar, serta panggung langsung yang mendebarkan. Bekerja sama dalam tim akan jadi pembelajaran hingga kita memahami bagaimana menghargai apa pun. Film juga baik, tetapi sifatnya bukan tayang langsung dan sebenarnya hal lainnya sama, hanya beda ruang saja.
Apa arti puisi bagi Evan Ys?
Aku mencintai kata seperti aku mencintai hidup. Begitu pentingnya kata sebagai alat penyampainya. Puisi tentu tidak sama dengan karya lainnya sebab puisi lebih pada pemahaman dan makna keseluruhan yang singkat. Lebih singkat dan kaya makna pada diksi yang dipilih mewakili apa yang akan diungkapkan.
Dulu Uni belajar menulis dari siapa?
Aku berguru pada alam. Sejak kecil aku suka membaca, bahkan kertas kecil yang kutemui pun kubaca. Saat sedang menyapu lantai misalnya, aku akan membaca dahulu. Hal ini sering menjadi bahan olok-olok adikku. Bahkan lebih buruknya, aku mesti membaca sembari makan. Sementara dalam aturan keluargaku yang Minang, ini menjadi masalah. Namun karena sudah terbiasa, semua memaklumi. Akan tetapi, sekarang sudah berkurang. Bahkan dinding kamar kakekku yang ditutupi koran jadi lahanku membaca. Waktu SMP, aku rela tidak jajan dan menyisihkan uang jajanku untuk membeli majalah remaja. Kalau menulis, aku sudah terbiasa menulis buku harian sejak remaja hingga kemudian terbiasa menulis apa saja.
Selain menulis puisi, cerita anak, esai, dan makalah, Uni menulis apa lagi? Mungkin sekarang sedang mempersiapkan naskah?
Cerpen. Kalau naskah drama, dulu aku menulisnya ketika SMA untuk tampil di acara kampung. Aku juga menulis skenario film. Kalau novel ada juga beberapa yang belum selesai.
