Tidak ada kebenaran yang mutlak. Kebenaran itu berdiri sendiri.
Saya pernah membaca status medsos seorang guru besar kampus ternama di Indonesia, beliau mengatakan bahwa “Hanya orang goblok yang menganggap yang lisan dan yang berita bukan teks”. Bagaimana tanggapan Uni? Sebab tidak semua masyarakat paham bahwa yang lisan adalah teks.
Lisan adalah teks yang dibacakan dan akan menjadi teks jika dituliskan. Apa alasan berkata yang lisan itu teks? Jika direkam, maka akan menjadi teks. Aku suka kalimat Ignas Kleden dalam sebuah diskusi: kita terbiasa lebih fokus pada sosok bukan pada pokok atau isi. Bagiku, bukan siapa yang mengatakan, tetapi lebih fokus pada apa yang dia katakan. Aku tidak terbiasa menyebut dan berfoto dengan sosok-sosok tertentu, tetapi lebih kepada isi kepalanya. Aku dididik A. A. Navis tentang cara menghargai orang. Aku pernah dimarahinya karena hal ini. Aku dipercaya Navis untuk mengurus kegiatan besar. Tiba-tiba aku percaya saja memberikan berkas pada orang yang hanya kukenal namanya saja.
Aku dimarahi Navis. Beliau berkata: “Kalau saya mengaku asisten Raja Brunei atau presiden maka kamu juga akan mempercayainya? Sebab kamu kenal nama-nama besar itu tanpa pernah bertemu?” Aku dimarahi di hadapan banyak tamu, yakni orang-orang hebat yang dia kenalkan sebelumnya kepadaku. Aku meminta maaf. Akan tetapi, bukanlah Navis jika marahnya panjang. Tiba-tiba ia menanyakan kalau aku sudah makan atau belum. Hahahaha…. Kenangan indah dan aku belajar dari sana.
Baik Uni Evan, Terima kasih ngobrol asyiknya yang membuat saya kecanduan. Kapan-kapan kita ngobrol lagi yah!
Oke. Siap. Terima kasih kembali.

| Nama asli | Eva Yenita Syam | |
| Nama Sastrawan | Evan Ys | |
| TTL | 5 September | |
| Pendidikan Terakhir | Magister Pendidikan S – 2, tetapi ini belum akhir. Masih setahap lagi , tahun depan Insya Allah. | |
| Pekerjaan | PNS |
