Bagaimana pun ia membawa pembaca ke seantero negeri, siapa sangka jika ia membicarakan hidup itu sendiri. Pergulatan di dalamnya seringkali menjadi guru terbaik. Sekalipun terlihat nyeleneh Ida sangat serius dan cerdik. Cerpen Tirakat Mak Ramen misalnya. Ada sekujur luka, nyeri, dan bayang-bayang tertuang di sana. Entah mengapa si tokoh begitu getir di antara harapan yang dibangun. “Orang bilang, lelaki Aceh itu sangat bertanggung jawab” (hal. 167). Di sini ia sesungguhnya mencoba mematahkan semua itu. Tak melulu apa yang orang katakan sesuatu benar tidaknya menjadi semacam hukum pasti. Tentu saja tidak, semuanya kembali kepada diri si individunya: mau percaya atau tidak.
Penutup buku ini terasa memilukan dan menyayat hati. Sekaligus menegaskan darimana Ida berasal: Aceh. Kekayaan alamnya menyeruak dan terasa benar bagaimana kehidupan di masa lampau dan kini. Ketika kaum pemberontak itu masih berkeliaran, ketakutan dan kekhawatiran itu kerap muncul. Seperti suara derap sepatu berbaju loreng, seperti letusan senjata boh jantong atau seperti ketika harus bersikap pada tentara; berkompromi atau disebut komplotan. Cerpen Sebuah Pertanda adalah semacam intuisi yang kerap muncul di benak masyarakat. Jika ada yang bertanya, “untuk apa?” yang pasti ada hal-hal yang mungkin di luar nalar manusia.
Serupa dengan Bakti Ayudia, Ida menyisipkan sebuah pesan moral yang kerap diabaikan manusia. Mungkin saja orang-orang modern menganggap pertanda adalah takhayul. Namun siapa sangka justru hal demikianlah yang membuat alam bersahabat baik dengan kita. Dan dari sekumpulan cerpen yang dirangkumnya dalam buku ini, ia begitu manis mengisahkan sekelumit tempat terpencil di ujung Sumatera. Harapan yag mungkin muncul di benaknya, Pembaca tentu saja bisa begitu larut, terjerembab, dan melirik sejenak kehidupan yang jauh dari urban.

| Judul | : | Cemong |
| Penulis | : | Ida Fitri |
| Penerbit | : | Basabasi |
| Cetakan | : | Pertama, September 2017 |
| Tebal | : | 184 hal; 14×20 |
| ISBN | : | 978-602-61246-2-3 |
Biodata:
Sugianto adalah pecinta buku sastra, sejarah, filsafat yang bercita-cita keliling Indonesia dengan menulis. Ia adalah pengguna media sosial yang aktif menjajakan buku online. Penulis saat ini berdomisili di Jambi dan dapat ditemui di FB akun Gie.
