Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Resensi > Di Tanah Lada: Bukan Romantika Dunia Anak-Anak

Di Tanah Lada: Bukan Romantika Dunia Anak-Anak

Di Tanah Lada. Ketika pertama kali membaca judulnya, benak saya dipenuhi prasangka. Saya menduga kalau saya akan disuguhi cerita-cerita beraroma poskolonial lagi. Kalaupun iya, tak apa. Barangkali ada sudut pandang baru. Lalu setelah membaca beberapa bab, saya senang karena dugaan saya salah. Ternyata novel ini tidak beraroma poskolonialisme. Lalu, tentang apa? Secara garis besar, novel ini berpusat pada kehidupan sekaligus pandangan dunia anak perempuan berusia enam tahun bernama Salva.

Dunia yang Mengelilingi Salva

Pandangan Salva tentang dunia tak bisa dipisahkan dari apa yang dilihat dan diperolehnya dari rumah. Cerita  dibuka dengan gambaran rumah Salva yang selalu terasa dingin dan gelap. Rumah itu dihuni oleh sesosok hantu bernama papa. Dari sebutan Salva terhadap papanya, pembaca sudah dapat mengira-ngira bagaimana sifat papa. Salva memiliki papa yang suka membentak, memukul, dan selalu marah-marah. Singkatnya, papa adalah monster yang menakutkan dan jahat. Orang yang tidak jahat, tidak bisa menjadi papa. Begitulah semua papa di dunia, menurut Salva.

Di samping papa, ada mama. Mama digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya dan cenderung mengalah pada papa. Ia tak mampu membela Salva yang sering disakiti oleh papa. Akan tetapi, pada kondisi tertentu mama juga bisa tegas ketika papa sudah terlalu kejam pada Salva. Sayangnya, kondisi tertentu itu tak sering muncul. Selain mama, ada Kakek Kia yang memberi Salva hadiah yang sangat berat dan berharga, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kemana pun Salva pergi, kamus itu selalu berada di tas ranselnya. Ketika Salva tidak mengerti arti kata tertentu, ia langsung mencarinya di dalam kamus.

Papa yang terlalu bengis dan mama yang cenderung lemah dan pasrah itulah yang membentuk pandangan Salva terhadap dunia. Dia menganggap dunia secara dikotomis. Hitam putih. Baik jahat. Ditambah lagi dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia tempat ia menemukan jawaban atas kata-kata yang tidak dimengertinya. Kamus itu di satu sisi memang menjadikan Salva sebagai anak yang pintar dan berwawasan luas. Namun, di sisi lain, kamus itu membuat Salva hanya memahami dunia lewat makna leksikal. Apa-apa yang tidak sesuai dengan makna yang ada dalam kamus membuatnya kebingungan dalam melihat fenomena sekitarnya. Di samping menjadi kelebihan, penggunaan kosa kata kamus dalam novel ini juga menjadi kelemahan karena disajikan dalam porsi yang berlebihan.

Baca juga: Nietzsche: Sang Pembunuh Tuhan yang Mencintai Takdirnya

Dunia Salva sedikit meluas setelah kepindahan keluarganya ke Rusun Nero. Perpindahan itu mempertemukan Salva dengan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama P. Pertemuan mereka pun menjadi intens. Bertemu orang lain selain keluarganya memungkinkan Salva memiliki referensi baru dalam memandang dunia. Sialnya, P memiliki nasib yang hampir sama dengan Salva sehingga mereka begitu “nyambung” dan cepat akrab.

Facebook Comments