Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Resensi > Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup

Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup

Buku Cemong

Buku ini sungguh kaya. Sentuhannya dalam mengatur ritme cerita membuat pembaca dibawa kemana-mana. Bukan hanya terbang melewati banyak hal yang mungkin tak pernah orang lain lakukan. Pun menggeluti peristiwa demi peristiwa yang berada di sekitar kita. Apa ia melulu membisikkan lokalitas yang berhamburan dalam sekumpulan cerpen? Tentu saja tidak.

Dalam cerpen Bukan Sulaiman kita akan melihat sebuah benturan yang nyata pada dirinya. Kisah dan karakter si aku begitu sederhana dan tanpa merumitkan pembaca. Seakan-akan ia membuka sebuah pertanyaan mendasar. Siapa Nabi yang mampu berkomunikasi dengan binatang. Atau kenapa seorang Sulaiman mendapat mukjizat itu. Lantas apakah si tokoh mampu menjadi sosok nabi yang dianugerahi kelebihan itu. Diramu dengan bahasa yang mudah dimengerti, ternyata kisah itu menjadi luar biasa dan memunculkan beragam interpretasi. Betapa tidak, dalam sebuah dunia modern ada seseorang dijuluki nabi. Itu alasan sesungguhnya ia menulis dengan kata ‘bukan’. Sesuatu yang terjadi di luar kendali diri kita. Bergejolak di sekitar kita. Dan terjadi dalam diri kita.

Ida memang piawai menyelubungi perasaannya dalam balutan cerita pendek. Pembaca bisa jadi berkerut kening namun tak jarang ada juga yang justru mengangguk dan tersenyum kecil merampungkan Cemong. Seperti kata pengantar yang ditulisnya cemong adalah bedak yang ditabur tak rata. Ia meloncat-loncat dari peristiwa demi peristiwa dengan molek. Ia kadang-kadang melucu, satire dan bergelora lebih dari itu: mentertawakan diri sendiri. Tak jarang pembaca menemukannya, seperti dalam Kanibal Linge. Pembaca dibuat shock ketika sesuatu diburu dan dibuat sebuah propaganda, maka justru pelakunya adalah seseorang di dekat kita. Itu pun bisa ditemukan dalam Kumpulan Para Jenius, Kematian Seekor Tikus, atau Kota Dalam Kenangan. Manakala orang-orang terlampau sibuk mencari sebuah kebenaran, kadang-kadang semua itu hilang seketika atau justru berada di depan mata dan hati kita.

Seluruh cerpen di buku ini menawarkan segepok cerita yang penuh kejutan, berlangsung cepat namun mengesankan. Jika ada pembaca yang sekedarnya saja membaca tentu akan kesulitan mengeja jalan pikiran Ida. Absurditas kerap muncul di beberapa karyanya. Siapa pun bisa terjebak jika tak menangkap pesan di balik tuturannya yang menawan. Pembaca (kalau mau) bisa saja mencoba bertanya siapa Aniqya, Sappho dan Li Qiang. Jika ternyata mereka benar-benar berasal di abad kekinian, bagaimana? Ida pun mengekplorasi diri terus mencari cara untuk terus mencari tahu. “Aku berjalan untuk menutup pintu. Hujan pun reda, listrik menyala kembali. Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari tahu sosok Sappho” (hal. 131).

Translate »