Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Resensi > Sang Nasionalis Muda dari India Selatan

Sang Nasionalis Muda dari India Selatan

Raja Rao

Novel Kantapura pertama kali diterbitkan pada tahun 1938 dalam edisi bahasa Inggris. Kisah dalam novel ini menceritakan  tentang sebuah desa terpencil di India Selatan bernama Kantapura. Desa ini diyakini dilindungi oleh dewa lokal bernama Kenchamma. Semua cerita dalam novel ini dituturkan oleh seorang wanita tua desa yang tak pernah menyebutkan nama. Gaya penceritaannya mirip epos klasik India, seperti Ramayana dan Mahabharata.

Tokoh utamanya bernama Moorthy, lelaki muda asal Kantapura yang sedang berkuliah di kota. Kemudian Moorthy tidak sengaja mendengar pidato Mahatma Gandhi. Ia menjadi akrab dengan filsafat Gandhi dan meniru gaya hidup Gandhi dengan memakai Khaddar saat pulang ke Kantapura. Ia membuang segala pakaian asing, dan menentang sistem kasta. Di Kantapura, Moorthy  menjadi pemimpin desa dengan mendirikan kongres panchayat. Sejak itu, ia menyebarkan ajaran-ajaran gandhi, seperti ahimsa (menjunjung tinggi semangat nirkekerasan), swadeshi (cinta tanah air), dan satyagraha (berpegang teguh pada kebenaran).

Moorthy terlahir dari kasta Brahmana, yakni kasta tertinggi, tersuci, dan terdominan dalam mendapatkan hak-hak istimewa guna mendapatkan wilayah tempat tinggal terbaik di Kantapura.  Meski demikian, Moorthy tidak lantas menganggap kasta lain adalah hina. Ia memercayai ajaran Gandhi bahwa semua orang itu sama di hadapan Tuhan.

Bersama anggota kongres lainnya, Moorthy mencoba memerangi imperialisme Inggris yang melanda India pada masa itu. Ia membeli mesin-mesin pemintal dan membagi-bagikannya secara gratis ke orang-orang berkasta  brahmana dan paria (kasta paling rendah, terpinggirkan, dan hina dina). Setiap hari mereka memintal lebih dari seratus yard benang untuk dijadikan pakaian. Gejolak kedua kasta ini sangat menonjol, terlihat beberapa tindakan toko kasta brahmana yang sering meludahi orang-orang paria. Bila mengadakan Bhajan di kuil, yang hanya diizinkan memasuki kuil hanya yang berkasta brahmana, sementara orang-orang paria hanya boleh berdoa di halaman dan terasnya saja. orang-orang paria hanya diizinkan masuk ke kuil sekali saja dalam setahun.

Facebook Comments