Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Poligami

Poligami

Poligami

Lalu, apa yang menjadi masalah terkait poligami, jika praktik ini sudah dilakukan selama berabad-abad tahun lalu? Masalahnya adalah banyak laki-laki yang tidak memperhatikan makna kata adil ketika memutuskan berpoligami. Bahkan banyak laki-laki malah melakukan pernikahan diam-diam tanpa sepengetahuan istri pertamanya.  Keadilan, menjadi sebuah kata yang mungkin gampang sekali diucapkan, namun kenyataannya banyak keadilan itu tidak didapatkan walaupun hanya sekedar kuantitas dan angka-angka. Misalnya dalam pembagian biaya hidup dan giliran kebutuhan seksual. Namun, jika kita berbicara keadilan yang kualitatif terkait cinta dan kasih sayang, saya berpikir apakah mungkin keadilan tersebut bisa dipenuhi suami? Sedangkan cinta seorang ayah saja kepada anak-anaknya, kerap berbeda dan sulit memperlakukan rasa sayang yang sama. Bagiamana dengan cinta dengan  lawan jenis yang di dalamnya tentu berbalut nafsu.

Bahkan banyak contoh kasus, kehidupan poligami malah menyengsarakan istri dan anak-anaknya. Seperti yang terjadi pada tetangga dekat rumah saya, yang mengalami gangguan jiwa karena suaminya menikah lagi. Pada akhirnya, suaminya menceraikannya dan tidak memberikan nafkah untuk anak-anak mereka. Jika berdasarkan Islam sebagai agama yang sangat memuliakan perempuan, Alquran mempertegas dan mengingatkan para pelaku poligami bahwa kemungkinan berbuat tidak adil yang berujung pada menyia-nyiakan istri dalam perkawinan poligami sangatlah besar. Seperti tertuang dalam Alquran  surat Annisa ayat 129 yang artinya; “Dan sekali-kali kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walapun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung….”

Banyak juga (saya tidak menyebutkan pelaku poligami yang bisa berlaku adil) tapi beberapa pandangan pernikahan poligami umum di masyarakat, suami cenderung sayang kepada istri muda. Namun belakangan malah istri muda yang biasanya melakukan pernikahan di bawah tangan (sirri) mengalami banyak bentuk kekerasan. Baik yang dilakukan oleh suaminya, maupun bullying oleh masyarakat sekitar seperti tetangga dan orang-orang lain. Dan berimbas juga cap buruk pada anak-anaknya, karena posisi ibunya yang lemah sebagai seorang istri di mata masyarakat. Istri muda ini juga mendapat kecaman sebagai perempuan penggoda, jalang, dan yang lebih sadis lagi pelacur karena telah merebut suami orang. Bisa dibayangkan perkembangan mental sang anak pasti akan sangat terganggu terutama jika anaknya berjenis kelamin perempuan. Kekerasan yang mereka dapatkan pasti berlapis, di antaranya psikologis, kekurangan ekonomi, kekerasan seksual, dan kekerasan fisik.

Translate »