Ulasan sederhana di atas, tentulah tidak seutuhnya bisa menjelaskan bagaiamana poligami hanya memiliki lebih banyak dampak mudarat daripada maslahat. Dalam poligami bayak mengabaikan hak seorang istri dan anak-anak terabaikan dalam keluarga. Jika ini terjadi, masihkah poligami menjadi bahan perbincangan laki-laki atas nama agama, atau dapat menjadi kebanggaan bagi seorang laki-laki? Saya sempat berdebat dengan suami tentang hal ini, suami memberikan pandangan, jika suami yang siap berpoligami laksana menyiapkan satu kakinya di dalam neraka dan kaki lainnya di pintu surga. Sungguh keputusan yang sangat sulit, dan pernyataannya terkait berlaku adil membuatnya tidak menyanggupi berpoligami sungguh meneduhkan hati saya. Karena saya sebagai seorang istri memilih tidak mau dipoligami. Karena bagi saya, poligami adalah proses dehumanisasi perempuan. Jika tidak dapat berlaku adil secara kuantitas maupun secara kualitas, maka laki-laki yang berpoligami telah merendahkan harkat dan martabat seorang perempuan.*
Poligami
