Perempuan-perempuan pemetik teh yang berjasa bagi produk teh terbaik di dunia ini, dan juga perempuan-perempuan petani tanaman tumpang sari yang berjibaku membantu keluarganya, berasal dari beragam suku. Namun yang terbanyak berasal dari suku Jawa, terutama Jawa Tengah. Konon, mereka telah hidup sejak awal perkebunan teh didirikan. Keluarga mereka dikenai kewajiban kerja paksa pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda untuk mengelola perkebunan teh Kayu Aro. Saat ini, perempuan-perempuan tersebut telah hidup turun temurun di perkebunan teh Kayu Aro Kerinci. Hasil tangan dan kerja keras mereka dapat mendorong anak-anak mereka sebagai generasi penerus untuk menempuh pendidikan tinggi hingga setaraf Strata 1. Anak-anak mereka, generasi penerus itu baik laki-laki maupun perempuan menempuh pendidikan di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di pulau Jawa.
Demikian perempuan-perempuan pemetik daun teh dan perempuan petani tanaman tumpang sari di perkebunan teh Kayu Aro mengisahkan bagaimana mereka bisa terdampar di tengah hamparan kebun teh yang menghijau menyejukkan mata itu. Merasakan semilir angin sambil menyaksikan perempuan-perempuan itu bekerja, serta sejuknya udara pegunungan, membuat kita terlena dan tak ingin cepat-cepat meninggalkan perkebunan teh Kayu Aro.

Lanskap gunung Kerinci sebagai gunung tertinggi di Sumatera dan masih aktif sangat jelas dan begitu terlihat dekat ketika memasuki areal perkebunan teh di daerah Kersik Tuo Kerinci. Hamparan perkebunan teh yang sangat luas menjadi pemandangan yang luar biasa. Setiap bukit dan lembah ditanami pohon teh. Beberapa pohon ada yang telah menua dan tidak lagi menghasilkan pucuk daun teh. Jalanannya cukup berliku-liku. Di hari-hari libur, jalan menuju areal perkebunan teh akan macet karena banyaknya wisatawan lokal yang hendak menuju perkebunan teh Kayu Aro dan menikmati pemandangannya. Pada hari-hari libur yang padat kunjungan ini, biasanya dapat ditemui perempuan-perempuan penjual jagung goreng.
Pihak PTPN VI juga dengan senang hati akan membantu wisatawan yang ingin mengetahui sejarah serta proses produksi teh Kayu Aro. Di sekitar pabrik, anda dapat berfoto-foto bernostalgia dengan bangunan kolonial atau dengan mesin-mesin pabrik zaman dahulu yang masih tersisa, selain bernostalgia dengan tanaman teh yang menua maupun yang masih menghijau.
Baca juga: Menikmati Pesona Air Terjun Segerincing
Di dalam areal perkebunan teh ini anda juga akan menemukan tugu yang didirikan dengan simbol harimau menginjak seekor kambing yang tidak berdaya. Lokasi tugu tersebut dinamakan dengan simpang macan. Konon katanya, di sekitar simpang tersebut dahulunya sering dilintasi harimau Sumatera yang kini sudah terancam punah.
