Thursday, April 16, 2026
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

Perempuan-perempuan Tangguh di Hamparan Kebun Teh

SEJAUH mata memandang hanya tampak hamparan daun teh yang menghijau di bawah kaki gunung Kerinci yang diselimuti gulungan awan putih. Semilir angin gunung berembus perlahan menggoyang daun teh dan bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitarnya. Di tengah hamparan kebun yang menghijau, tampak perempuan-perempuan pemetik teh sedang bekerja. Di kepalanya bertengger caping bambu untuk menahan jilatan matahari. Mereka juga melumuri muka dengan bedak beras agar kulit wajah aman dan tidak terbakar matahari. Di pinggang mereka terpasang lembaran karung plastik yang telah dimodifikasi menyerupai celemek, dan di punggungnya tergantung sekantung karung plastik tempat menampung daun teh yang telah dipetik.

Baca juga: Alunan Gemuruh Telun Berasap yang Menenangkan

Sambil berjalan beriringan menuju lokasi teh yang akan dipetik daunnya, mereka menyanyikan lagu atau yel-yel sukacita sebagai pendorong semangat bekerja. Sebagian lagi ada yang tengah bergerombol mengumpulkan karung-karung berisi daun teh yang telah dipetik. Sementara beberapa perempuan lainnya tampak asik menyembul dan menghilang di antara  hamparan pohon teh. Mereka  tampak asyik memetik daun teh di perkebunan Kayu Aro Kerinci yang produk premiumnya menjadi komoditas favorit ratu Inggris juga Belanda.

Namun, tidak semua perempuan di perkebunan teh Kayu Aro menjadi pemetik daun teh. Sebagian ada yang mengelola tanaman tumpang sari seperti kentang dan buncis di areal perkebunan teh terluas di dunia ini atas izin PTPN VI yang memiliki hak kelola perkebunan tersebut. Tanaman tumpang sari ini dikelola oleh perempuan-perempuan petani bersama anak dan keluarganya.

Tanaman kentang menjadi komoditas utama yang ditanam secara tumpang sari. Hasilnya cukup lumayan ketika dipanen setelah dua bulan masa tanam. Perempuan-perempuan petani tanaman tumpang sari ini, berjibaku membantu keluarganya  tanpa kenal lelah dari masa awal tanam hingga panen. Mereka dibantu dengan anak dan sesama perempuan di keluarganya. Pada waktu penulis berkunjung ke perkebunan teh Kayu Aro beberapa waktu lalu, sekelompok perempuan petani sedang memanen kentang di tengah perkebunan teh. Para pria membantu mengumpulkan kentang yang telah dipanen dan memasukkan ke dalam karung-karung besar hingga mengantar ke pengepul. Perkebunan teh yang memiliki luas sekitar 3.020 hektar ini menjadi tempat bagi para perempuan pemetik teh dan perempuan petani tanaman tumpang sari berjibaku mencari penghidupan.

Selain menjadi perkebunan teh terluas di dunia, perkebunan ini merupakan perkebunan teh tertinggi di dunia setelah perkebunan teh di India. Letaknya ada di 1600 mdpl. Perkebunan ini telah  beroperasi sejak tahun 1920 pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pada saat itu sebuah perusahaan perkebunan Belanda Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam (NVHVA) yang mengelola perkebunan teh Kayu Aro. Pohon teh mulai ditanam oleh perusahaan perkebunan Belanda tersebut pada tahun 1923. Sedangkan pabriknya berdiri sejak 1925. Pada tahun 1959, perkebunan teh Kayu Aro dinasionalisasi oleh Indonesia dan perusahaan pengelolalanya PTPN VI hingga sekarang.

Baca juga: Menikmati Debur Ombak Danau Kerinci

Saat ini, daun teh yang selalu menghijau sepanjang tahun itu rutin menghasilkan sekitar 5000 ton daun teh setiap tahun. Daun teh dari perkebunan ini, diekspor ke berbagai negara seperti Rusia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Serikat, Asia Tengah, Pakistan dan Asia Tenggara berupa produk teh unggulan yaitu teh ortodox grade satu.

Translate »