Halaman: 1 2
Saya belum membaca cerpen karangan Keret, tetapi kebanyakan tulisan yang memuat tentang pendapat soal cerpen Keret, selalu menunjukkan betapa Keret memiliki kualitas yang mumpuni. Saya akan menambahkan Keret sebagai penulis favorit saya tahun ini. Penulis tidak menciptakannya, tetapi dia ada di sini untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan (hal 118). Saya sepenuhnya setuju, karena Keret telah membuktikannya dalam buku ini. Ia mengatakan apa yang perlu dikatakannya tanpa membuang banyak basa-basi.
Dalam penutup bab buku memoar ini, Keret menyajikan keindahan dan perdamaian dalam keluarganya di tengah meledaknya sebuah bom melalui Pastrami. Saya sangat menyukai sketsa yang dibangun Keret dalam Pastrami saat menenangkan anaknya yang tidak mau tiarap saat terdengar bunyi peringatan bom. Sekali lagi, itulah kelebihan Keret yang membuat saya jatuh hati, ia selalu berhasil mengendalikan suasana, walau sesekali ia terlihat emosi ketika menghadapi sopir taksi.
Membaca memoar ini, saya berhasil menangkap pesan bahwa Keret adalah seorang Yahudi yang cinta akan perdamaian. Sehingga Keret ingin diperlakukan sama seperti ia memperlakukan orang lain. Secara tidak langsung ia menegaskan bahwa setiap kita memiliki kisah, dan mari kita mengenang kisah itu sebagai rambu-rambu untuk memperbaiki masa depan.

| Judul | : | The Seven Good Years |
| Penulis | : | Etgar Keret |
| Penerjemah | : | Ade Kumala Sari |
| Penerbit | : | Bentang Pustaka |
| Terbit | : | Cetakan pertama, Juni 2016 |
| Tebal | : | 198 halaman |
Abdul Rajib, Tukang lapak buku dan bisa ditemukan di IG: lapakbacajambi
